Saya dibesarkan dalam keluarga dimana fatherhood itu benar-benar real ada di kehidupan saya. Bahkan sampai sekarang saya sudah berkeluarga, saya masih sering cari papa saya untuk advice atau sekedar cerita. Figur papa sangat berperan dalam keseharian saya sedari kecil dimana waktu masih kecil, papa saya selalu menyuapi saya susu setiap pulang kerja, main bola dengan papa, belajar matematika dengan papa, dan lainnya. Saya tumbuh menjadi pribadi yang kuat juga karena selalu ‘disuntikkan’ motivasi oleh papa, dimana papa selalu bilang : ‘walaupun kamu perempuan, kamu harus kuat seperti laki-laki.’ Peran papa amat sangat penting dalam pembentukan karakter dan sosial saya.

Melihat figur ayah seperti yang papa saya punya, membuat saya bercita-cita kalau anak saya harus mendapat papa yang berperan dalam kehidupannya. Menurut saya, tugas ayah dalam sebuah keluarga bukan hanya mencari uang, tapi ikut aktif dalam membesarkan anak. Membesarkan anak bukan berarti hanya diberi uang dan makan ya, karena kita bukan ayam yang setelah anaknya besar dibiarkan begitu saja. Peran kita sebagai orang tua itu teramat besar untuk menyiapkan anak kita di kehidupan selanjutnya. Hidup jaman sekarang itu tidak semakin mudah, apalagi jaman anak-anak kita nanti dimana tantangan menjadi semakin hebat. Jadi pintar dan punya uang saja tidak cukup, saya mau anak saya jadi pribadi yang kuat, punya rasa empati yang bagus, punya karakter yang baik, punya prinsip hidup, dan terutama bisa menjadi berkat untuk orang-orang disekitarnya.

Dari awal saya hamil, saya selalu bilang sama suami, kalau saya mau dia spend quality time dengan anak, saya mau dia sudah sampai dirumah jam sekian setiap pulang kerja dan weekend hanya untuk family. Keinginan saya cukup spesifik seperti saya mau makan selalu duduk bareng di meja makan (no gadget), pergi liburan bersama at least setahun sekali, dan yang paling penting, satu visi dalam mendidik anak. Tentunya setelah anak lahir, keadaan tidak bisa sesempurna seperti bayangan saya. Bukan cuma saya yang baby blues, tapi mungkin Daddy Sammy juga shock dengan kehadiran anak. Clueless, mungkin kata yang tepat untuk itu.

Saya sangat yakin tidak ada manual book atau kursus untuk dalam fatherhood. Semua belajar dari nol dan dari pengalaman. Jadi bukan persoalan bisa dan ga bisa, tapi lebih ke MAU atau GA MAU. It takes time, yes it’s true. Tapi semua harus ada target. Being a parent itu ga mudah. SANGAT BANYAK hal yang harus dibiasakan, dipelajari, dan DIKORBANKAN. Punya anak itu bukan cuma sekedar kasih keturunan ke grandparents, bukan cuma sekedar untuk status karena teman-teman lain sudah punya anak, bukan cuma untuk dijadikan barbie dipakaikan baju-baju lucu, bukan cuma dijadikan bahan untuk update social media. Punya anak itu berarti komitmen untuk berkontribusi 1000000% di kehidupan si anak itu, ya berarti termasuk keseharian si anak SAMPAI dia dewasa nanti.

Daddy Sammy bukan daddy yang sempurna, mungkin masih jauh juga kalau saya mau bandingkan dengan papa saya. BUT, I HAVE SEEN PROGRESS. Ya, satu kata itu, PROGRESS. Daddy Sammy dibesarkan dalam keluarga yang berbeda dengan keluarga saya dan personalitynya itu introvert, jadi semua ekspektasi saya itu mungkin dirasa berat. Kondisi seperti ini mungkin dialami oleh banyak new moms. Banyak ibu-ibu di instagram yang curhat sama saya dimana suaminya susah dimintakan tolong, kalau ada waktu senggang maunya main game, ga sabaran, bahkan sampai ada yang bilang kalau lebih happy kalau anak istrinya ga dirumah. Jadi sepertinya sindrom Daddy zaman now memang merajalela ya. But worry not, Daddy Sammy juga kayak gitu kok, tapi thank God as time goes by, dia sudah semakin membaik. Saya percaya semua ayah itu sayang sama anaknya, jadi tugas kita sebagai istri yang terus menerus tanpa bosan mengingatkan untuk bangun hubungan dengan anak. Batu saja kalau setiap hari ditetesi air pasti bolong, masa sih hati seorang ayah ga bisa lunak kalau setiap hari dikasih tau (walaupun mungkin terkadang piring di tangan mommy bisa melayang hihi).

Jadi, apa sih rules Mommy Sammy supaya Daddy Sammy bisa bonding dengan Sammy?

  1. Pulang kerja as early as possible, usahakan bisa dinner bareng di meja makan
    It takes 2 hours (and sometimes more) dari kantor Daddy Sammy ke rumah karena jarak dan macet yang nauzubillah, jadi seringnya missed dinner time. Tapi at least dua kali weekdays pasti ada dinner bareng di meja makan, diluar weekend
  2. Makan duduk bareng di meja makan, no gadget
    Ini kebiasaan saya di keluarga dari kecil. Saya mau membiasakan keluarga saya duduk bareng dan bertukar cerita, tanpa gadget. Biasanya di jam makan ini, kami sambil bertukar cerita, dan nanti kalau Sammy sudah sekolah, Sammy bisa ikutan sambil cerita. Jaman sekarang, orang reunian saja walaupun duduk bareng tapi semua sibuk dengan gadget masing-masing. Saya ga mau seperti itu.
  3. Weekend = daddy on duty
    Sammy ketemu dengan daddynya palingan hanya 2-3 jam sehari. Daddynya pergi kerja subuh saat dia belum bangun, dan palingan baru ketemu malam sebelum dia tidur. Jadi, weekend mulai dari ganti diaper, mandi, main, jalan-jalan keliling kompleks, tidur siang, Sammy sama daddynya. Ini saat untuk bonding ayah dan anak
  4. Baca bedtime story
    Saya mau membiasakan kebiasaan membaca dari kecil untuk Sammy, jadi walaupun belum mengerti dan dia cuma lihat-lihat gambar, sedikit banyak narasi yang dibacakan pasti masuk ke otaknya. Nah, kalau lagi bisa pulang early, ini tugas Daddy Sammy. Biasanya Sammy sudah terbiasa untuk bawa buku, disodorin ke saya atau daddynya, untuk minta dibacakan
  5. Liburan bersama ke luar kota
    Pergi liburan at least setahun sekali supaya sekeluarga bisa refreshing. Weekend kami lebih banyak spend time waktu dirumah, paling mentok pergi makan ke mall, tapi itupun paling 2 minggu sekali. Simply karena Daddy Sammy ga terlalu suka mall dan pastinya mau istirahat ya setelah 5 hari kerja selalu bermacet ria
  6. Baca artikel-artikel mengenai parenting
    Nah, kalau ini biasanya saya yang harus sodorin untuk dibaca. Jadi mommies, ayo proaktif ya.

Nah itu beberapa rules yang Mommy Sammy terapkan dan masih dijalankan sampai sekarang. Kenapa saya bilang rules? Karena itu semua diluar kebiasaan Daddy Sammy dan sometimes untuk mengubah kebiasaan itu harus menggunakan cara yang tegas. Awalnya mungkin terasa annoying tapi in time pasti akan jadi kebiasaan yang natural. Perlu disadari, naluri ayah itu berbeda dengan kita yang punya naluri keibuan. Jadi most of them masih kaku, oleh karena itu harus dibimbing.

Fatherhood sama sulitnya dengan motherhood. Kita sebagai ibu mungkin lebih mudah untuk bonding karena 9 bulan lebih kita mengandung anak, merasakan tendangan, berbagi darah, tapi ayah ga bisa merasakan itu semua. Buat para ayah perlu waktu untuk adjust dunia parenting. Dulu saya naif dan berpikir kalau nanti anak lahir, suami saya pasti bisa begini begitu. WRONG! Itu semua hanya di film-film mungkin ya. But anyway, ga semua new fathers perlu ‘manual guide’ kok, ada beberapa teman saya yang suaminya bahkan lebih proaktif ketimbang dianya. Buat yang suaminya masih perlu diguide, semangat, karena as parents kita team, jadi supaya bisa sukses, anggota team yang kuat harus membantu anggota team yang masih lemah, supaya bisa kuat bareng. Yang penting semua harus dimulai dari KEMAUAN, dalam hal ini MAU berperan aktif dalam kehidupan si anak.

Buat para ayah, kalau fatherhood dianggap sebagai task atau pekerjaan tambahan, pasti akan terasa sulit dan berat. Tapi kalau kita melihat positive impact yang bisa didapatkan dari bonding time ini, fatherhood akan terasa lebih menyenangkan. Sekarang mungkin ayah ga merasa percaya diri di dunia fatherhood, tapi kalau day by day dijalani, 5 years from now, saya percaya ayah akan lebih mantap dan pede dalam hal fatherhood. Lalu, semakin banyak waktu yang ayah habiskan dengan anak, maka ayah akan semakin mengenal anaknya, apa yang dia suka, apa kelebihannya, apa yang membuat dia marah. Hal ini untuk mencegah ayah meng-underestimate dan meng-overestimate anak di kemudian hari. Misalnya, ternyata si anak lebih suka main bola daripada main musik, nah kalau kita tau lebih awal, kita bisa lebih mengasah talenta si anak kan. Positive side yang lain, ayah akan berpengaruh di kehidupan anak. Kalau ayah punya kedekatan dengan si anak, anak pasti look up ke ayahnya kalau perlu saran atau ada masalah, mulai dari respect, life values, cara bersosialisasi dan lainnya. Jadi kita ga perlu khawatir anak akan lari ke hal-hal negatif kalau ada masalah, karena selain kita tau persis detail kehidupan anak, kita yakin anak akan lari ke kita untuk membantu dia solve the problem. You will understand later how good it feels to have someone calls you his/her hero. Nah, ketimbang anak malah mengidolakan batman sebagai superhero, why not ayah menjadi superhero untuk anak? Jangan sesalkan masa kecil ayah yang mungkin tidak ada figur orangtua yang baik, ambil kesempatan sekarang ini untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak kita supaya nanti saat kita sudah ga ada lagi di dunia, kita bisa senyum lega melihat kita sudah ‘menanam’ bibit unggul untuk dunia ini.

Happy parenting!

Cheers,

Mommy Sammy

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.