Sekarang ini sudah cukup banyak orangtua yang menyadari pentingnya penggunaan car seat untuk baby. Penggunaan car seat memang tidak pernah disosialisasikan oleh pemerintah padahal di negara-negara berkembang yang populasi mobilnya banyak (eropa, amerika, australia), car seat sudah menjadi aturan yang wajib dari pemerintah. Bahkan di Amerika, kalau orangtua tidak punya infant car seat saat mau membawa pulang newborn babynya, maka Rumah Sakit ga akan mengijinkan babynya dibawa pulang. Di beberapa state di Amerika bahkan taxi atau uber tidak akan mau pick up penumpang yang membawa baby/toddler tanpa car seat. Di Indonesia sendiri, terutama di Jakarta, sebenarnya sudah banyak orangtua yang menggunakan car seat, tetapi sayangnya sebagian besar masih melakukan kesalahan dalam prakteknya sehingga kalau (amit-amit) terjadi kecelakaan, bisa berakibat fatal. Di post ini saya akan jabarkan selengkap mungkin mengenai penggunaan car seat.

Kenapa harus pakai car seat, kan bisa pakai adult seat belt biasa?

Adult seat belt diperuntukkan bagi orang dewasa untuk mencegah cedera dengan mendistribusikan tekanan akibat benturan, ke tulang rusuk dan tulang panggul yang sudah kuat. Sedangkan kondisi tubuh anak-anak seringnya masih terlalu kecil untuk memposisikan belt ini DENGAN SEMPURNA ke bahu dan tulang panggulnya pun belum kuat. Tulang anak-anak masih belum cukup kuat untuk menahan besarnya energi dari sebuah benturan tanpa merusak organ internal mereka. Ditambah lagi, dimana untuk anak-anak yang masih lebih kecil (baby atau balita), tulang dan ligamennya msaih berkembang, kepala mereka pun masih sedikit lebih besar dari leher mereka, sehingga tanpa car seat akan sangat beresiko untuk mengalami cedera kepala dan tulang belakang.

Saya biasa pangku anak saya, cukup aman?

Pada kenyataannya, tidak ada satu orangpun yang cukup kuat untuk menahan seorang anak di saat terjadi kecelakaan instant. Seringnya, anak akan terbang terlempar ke depan, entah lewat kaca depan atau kaca samping. Faktor yang tidak pernah terpikir itu G-Forces (tekanan gravitasi). G-Forces akan berubah dari sekedar gravitasi menjadi beban yang sangat hebat jika terjadi percepatan. Kalau terjadi kecelakaan, pastinya akan terjadi percepatan karena satu kendaraan mendapat hantaman dari yang lain. Lebih jelasnya seperti ini :

Dalam kecelakaan yang terjadi dengan kecepatan tabrakan sekitar 48 km/jam, beban G-Forces yang dihasilkan sekitar 20-25G. Kalau kita sedang diam, beban G-force kita ya 1G. Jadi saat kecelakaan terjadi, misalnya berat badan kita 50 kg, maka seketika akan terasa menjadi 1,250 kg. Jadi jika anak ada diantara kita dan pangkuan kita, yang terjadi adalah tubuh kita yang punya beban G-Force seberat 1,250 kg akan menghantam anak.

Car Seat apa yang harus dibeli?
Ada beberapa jenis car seat yang tersedia dan semua peruntukannya berbeda-beda :

  • Infant car seat : car seat ini bisa dipakai untuk newborn baby sampai baby dengan berat badan 10 kg, dan biasanya hanya bisa menghadap ke belakang.
  • Convertible Car Seat : car seat jenis ini bisa dipakai menghadap ke belakang dan ke depan, biasanya bisa dipakai dari anak masih newborn (dengan tambahan pad) sampai anak dengan berat badan 36 kg. Sekarang sudah ada 3-in-1 Convertible Car Seat dimana penggunaan bisa dipakai sampai anak dengan berat badan 50 kg (sekaligus merangkap booster seat)
  • Booster Seat : car seat jenis ini biasa dipakai untuk anak dengan berat minimal 20 kg dan bisa dilanjutkan sampai tinggi anak melebihi batas sandaran booster seat (kira-kira tinggi anak 140 cm)
Kesalahan yang biasa terjadi dalam penggunaan car seat :
  1. Posisi Car Seat menghadap ke arah yang salah
    American Academy of Pediatrics mengatakan Posisi REAR-FACING (menghadap ke belakang) harus dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun.
    Ini kesalahan yang sering terjadi, karena seringnya kita berpikir karena sudah di car seat ya sudah aman. Kenyataannya, jika terjadi kecelakaan, bisa berakibat sangat fatal, lihat videonya disini dan disini.
  2. Car Seat tidak dipasang dengan benar
    Instalasi car seat yang benar seharusnya jika sudah terikat dengan seat belt, baby car seat tidak akan bisa bergerak lebih dari 1 inch jika ditarik atau didorong
  3. Harness (tali pengaman) tidak kencang
    Kesalahan umum yang sering dianggap remeh adalah tali pengaman yang hanya asal dicangklong ke bahu anak, padahal tali pengaman ini lah yang menjadi satu-satunya pengaman untuk tubuh anak jika terjadi benturan. Untuk memastikan tali pengaman sudah kencang, coba cubit tali di bahu anak, jika masih bisa dicubit, berarti belum cukup kencang
  4. Tidak ada chest clip
    Dari sekian banyak car seat yang dijual di Indonesia, hampir semua tidak dilengkapi dengan chest clip. Chest Clip ini yang menahan supaya anak tidak terlempar keluar.
  5. Posisi car seat terlalu tegak
    Posisi car seat yang benar seharusnya 45 derajat recline, jadi agak tiduran, sehingga kepala anak tidak tertekuk (menutup jalur napas) kalau ketiduran dan tidak wobbly jika jalanan bergelombang
  6. Car Seat dipasang di sebelah kursi pengemudi
    Ini kesalahan yang sangat fatal. Kalau ada airbag, saat terjadi benturan, anak akan cedera akibat tekanan kuat dari airbag. For your information, saat terjdi benturan, airbag bisa mengembang dengan cepat sampai 200 miles per hour, jadi bayangkan seberapa kuatnya airbag akan menghantam car seat/anak. Kalau tidak ada airbag, anak akan terkena efek langsung dari tabrakan.

MENGAPA PEMASANGAN CAR SEAT REAR FACING LEBIH AMAN

Menurut studi, anak-anak berusia 12-24 bulan akan 5 kali lebih aman dari kematian dan cedera serius saat duduk dengan kondisi car seat menghadap ke belakang daripada menghadap je depan, dimana 532% lebih aman. .Dalam kondisi kecelakaan, impact force paling hebat kalau benturan terjadi dari depan (48%), dimana dalam kasus kecelakaan mobil 70% diakibatkan tabrakan depan, 20% tabrakan samping dan hanya 5% yang diakibatkan tabrak belakang. Melihat besarnya force yang diterima sebuah mobil jika terjadi kecelakaan, bisa dilihat di gambar bawah ini. Kalau posisi anak sedang menghadap kedepan dan benturan dari depan mobil bisa dibayangkan efeknya. H2S_Crash-by-percentSaat anak berada pada car seat rear facing (dalam kecelakaan tabrak depan), beban tabrakan akan terdistribusi ke seluruh tubuh (kepala, leher dan punggung). Anak akan terlindungi oleh frame car seat dan kepala anak akan bergerak BERSAMAAN/SEARAH dengan arah datangnya beban tabrakan, dimana sandaran car seat otomatis melindungi kepala – mengurangi resiko cedera leher dan tulang belakang.

Saat anak berada pada car seat forward facing (dalam kecelakaan tabrak depan), sabuk pengaman car seat akan menahan torso anak saja, sedangkan kepala tidak akan tertahan karena ikut maju ke depan, membuat beban yang sangat hebat di leher anak karena kepala akan bergerak BERLAWANAN dengan arah datangnya beban

“Tapi kalau menghadap ke belakang, saya tidak bisa memantau anak saya”

Tugas anda adalah menyetir dengan fokus menghadap ke depan, sedikit saja meleng, kecelakaan bisa saja terjadi. Bahkan penggunaan car seat mirror di beberapa negara mulai tidak disarankan karena bisa memecah konsentrasi pengemudi

“Tapi anak saya pasti bosan kalau menghadap ke belakang”

Safety should be your main concern dibandingkan dengan kenyamanan. Coba beri beberapa mainan atau kalau terpaksa harus memberikan gadget, ya so be it, ketimbang nyawa taruhannya. Perlindungan untuk anak harus lebih diutamakan ketimbang faktor kenyamanan

“Tapi kalau menghadap ke belakang, anak saya akan mual”

Motion sickness tidak ada hubungannya dengan travel direction. Motion Sickness terjadi karena otak menerima ‘pesan’ yang berbeda. Misalnya saat mobil berjalan mata kita memberi pesan ke otak ‘jalan’, tapi propriceptors di tubuh kita saat membaca buku memberi pesan ke otak untuk diam (still). Jadi kalau anak mengalami motion sickness, baik carseat menghadap belakang atau depan pasti akan mengalami mual.

“Tapi anak saya ga betah duduk di carseat”

Semua hanya masalah faktor kebiasaan. Dulu sebelum adanya aturan pemakaian seat belt, toh kita juga jarang kan memakan seat belt jika berkendara. Namun sejak adanya aturan ditilang kalau tidak pakai seat belt, walaupun tidak nyaman, akhirnya kita pakai. Selang beberapa bulan, pemakaian seat belt justru menjadi kebiasaan dan tidak lagi mengganggu. Sama halnya dengan car seat. Jika dibiasakan dari lahir anak untuk diletakkan di car seat, maka hal itu akan menjadi kebiasaan untuk si anak.

Berikut contoh penggunaan car seat rear-facing yang benar dan salah :

RIGHT

  • bagian kepala tidak melebihi sandaran
  • posisi strap pas di bahu dan tidak longgar
  • ada chest clip untuk melindungi supaya tidak terlempar
  • posisi strap dibagian perut melindungi area torso
  • 5 points harness terkunci sempurna
  • posisi anak recline 45 derajat sehingga kepala tidak tertekuk yang dapat menghalangi jalur napas

WRONG

  • Posisi duduk anak terlalu tegak sehingga kalau ketiduran bisa tertekuk kepalanya
  • tidak ada chest clip
  • strap terlalu lebar sehingga tidak pas mengikat bahu
  • strap terlalu longgar sehingga walaupun semua strap terkunci, anak tetap bisa lolos dan terlempar dari car seat karena ada celah

Nah, semoga post saya kali ini dapat memberi pencerahan untuk informasi serba serbi penggunaan car seat. Di jaman sekarang ini, mungkin kita tidak akan menabrak, tapi kita tidak pernah bisa menghindari posisi dimana kita yang ditabrak. Musibah tidak ada yang tahu kapan terjadinya, alangkah baiknya jika kita bisa mencegah dengan memberi perlindungan maksimal untuk anak. Car seat tidak hanya untuk melindungi si anak, tapi juga membantu pengemudi yang sedang menyetir sehingga pengemudi bisa fokus karena sudah yakin anak duduk aman di belakang.

Cheers,

Mommy Sammy