/ / / Raising An Independent Kid (Mencetak Anak yang Independen)

Raising An Independent Kid (Mencetak Anak yang Independen)

|

Tell me and I forget. Teach me and I remember. Involve me and I learn. – Benjamin Franklin

Dari sebelum punya anak prinsip saya kalau punya anak adalah bagaimana mencetak manusia yang independent dan bertanggung jawab. Tidak tergantung orang tua, kuat mentalnya dan bertanggungjawab atas hidupnya sendiri. Yang saya tau, anak saya harus belajar responsible for his own life, bukan orangtuanya, bukan susternya. Kenapa? Suatu hari orangtuanya akan ga ada, suatu hari belum tentu dia bisa mampu punya ART, suatu hari belum tentu dia bisa hidup enak seperti yang orangtuanya berikan, suatu hari ga semua apa yang dia mau bisa tercapai. Satu2nya cara yang bisa saya lakukan supaya dia bisa menhadapi itu semua adalah dengan mengajarkan untuk survive. Bagaimana caranya survive? Ya mulai dari bertanggungjawab atas dirinya sendiri, mastering practical life skills.

Semua dimulai dari yang paling dasar, yaitu practical life skills. Jaman saya sekolah dulu, kalau saya ketinggalan buku/PR, orangtua saya ga akan anterin bukunya dan justru membiarkan saya disetrap. Dari situ saya belajar untuk tanggung jawab beresin tas sekolah saya sendiri. Jaman saya sekolah, kalau saya telat bangun ya saya ketinggalan bus sekolah dan hari itu ya saya ga sekolah. Jadi, walaupun dari dulu orangtua saya punya ART, saya bisa melakukan SEMUA basic life skills (boleh crosscheck ke suami saya 😆), karena mereka mengajarkan saya untuk responsible of my own life. Nah, saya mau mengajarkan practical life skills seperti itu ke Sammy, supaya siapapun yang jadi istrinya Sammy nanti ga protes kalau suaminya ga bisa apa-apa 😌

Dari hasil research dan konsultasi sana sini, saya merasa montessori method paling pas untuk pola asuh saya. Inti dari montessori adalah help me to do it MYSELF. Ingat ya, myself bukan mama, bukan mbak, bukan suster. Nah, masukkin anak ke sekolah montessori aja itu ga cukup, karena apa yang diajarkan di sekolah harus di apply dirumah. Jadi kalau di sekolah sudah diajarkan montessori, tapi dirumah semua serba ‘mbak’ dan ‘sus’, ya wis kacau.

Menurut para ahlinya (dokter, psikolog, scientists), 2 tahun pertama kehidupan anak itu bener2 golden age anak dimana otaknya akan cepat sekali menyerap hal-hal yang diajarkan ke dia. Nah, semakin mantaplah keinginan saya untuk pegang anak saya sendiri tanpa nanny. Dengan 24 jam Sammy bersama saya, saya jadi bisa ‘brainwash’ dan ‘mengindoktrinasi’ dia dengan hal-hal positive seperti yang saya mau dia belajar. Menurut saya, sayang sekali waktu yang terbuang kalau 2 tahun hidupnya cuma dipakai untuk makan, minum, main, dan dijadikan barbie. Itu kalau saya ya.

Balik ke rutinitas Sammy. Day by day, Sammy ga cuma main tanpa arah. Contoh : akhir-akhir ini dia lagi suka banget minum juice, jadi saya ajak dia bikin juice bareng. Bukan merasa terbeban, tapi dia excited dan yang terpenting : Dia happy! Di foto ketiga, itu adalah tabel list basic life skills yang saya targetkan untuk Sammy. Jujur saya ga ngoyo kok, benar-benar cuma hari ke hari ya jalanin saja. Pagi gagal, ya coba siang. Siang gagal, ya coba malam. Begitu terus SAMPAI BISA. Yang saya centang kuning itu yang sudah saya terapkan dan Sammy sudah mau nurut. Susah? Ya pasti lah. Itu dia kenapa saya hold dulu mau punya anak kedua, karena yang pertama aja masih mau saya develop firmwarenya (curcol 😛).

Bagaimana cara saya mengajarkan Sammy?

1. Teach
Biasanya saya akan jelasin dulu kayak briefing. Ajarkan dulu apa dan yang mana itu bath toys, baju, celana, diaper, sepatu. Jangan sampai kita ajarin sepatu, yang dia tangkep itu bola. Setelah anak tau target object, beri penjelasan. Misalnya soal beresin bath toys. Saya bilang : Sam, kalo berantakan mainannya, nanti diambil digigit-gigit Izzie (doggie saya), nanti kalo Sammy mau main kan jadi ga ada mainannya. Yuk kita beresin bareng, biar besok Sammy bisa main lagi.

2. Demonstrate
Anak saya ini cukup unik. Dia ga suka banget dicontohin dengan dipegang tangannya lalu diarahkan. Jadi dia tipe yang lebih mau ikut-ikutan apa yang saya lagi kerjakan. Contoh soal bath toys : jadi yang saya lakukan, saya mulai ambil satu per satu mainan yang berceceran. Terus saya ngomong ke dia : itu mainannya jauh banget, tolong kasih ke Mommy ya yang itu. Nah, dia excited mau bantuin saya ambil mainan itu, lalu kasihin ke saya. Lalu saya letakkan satu mainan di tempatnya, sambil saya challenge : Sammy bisa ga kayak gini?

3. Attend
Be present. Jadi selama anak ‘belajar’ skill itu, tetaplah ada didekat dia, perhatikan tapi tidak perlu dibantu. Berikan kesempatan buat dia mencoba. Biasanya saya sambil bilang : iya bener, oke, lalu yang itu bagaimana? Untuk show ke dia kalau saya masih disitu perhatiin dia

4. Inspect
Biasanya sehabis melakukan yang saya suruh, Sammy bilang : udah. Nah itu beneran saya inspeksi, sudah sesuai ekspektasi saya belum. Kalau belum, balik lagi ke step 1 ya.

5. Appreciate
Jangan pernah lupa untuk compliment anak. Menurut saya ini penting untuk encourage dia. Biasanya saya akan bilang : horee, tuh kan bisa. Dan Sammy biasanya akan claps his hands.

Kurang lebih begitulah cara saya mengajarkan skill baru ke Sammy. Nah, yang perlu diingat, ini ga instant yah. Konon kata dokter anak, anak itu butuh 20-30 kali pengulangan biasanya baru bisa. Kalo sudah bisa sebelum itu ya puji sayaukur. Skills yang mau saya ajarkan ga muluk-muluk kok jadi I have all the time to teach him.

Kenapa saya ajarkan sejak dini? Karena semakin besar akan semakin sulit. Orangtua saya ga pernah nyuruh saya dan adik-adik belajar kalau lagi ulangan/UN, yang ada mereka sering suruh kami bolos kalau mau ulangan/UN 🤣 Tenang aja, mereka cuma test the water kok karena mereka tau anak-anaknya punya rasa tanggungjawab untuk belajar tanpa disuruh. Ranking bukan jadi burden, tapi kami jadikan itu target. Tahun-tahun pertama masuk SD itu berat, saya inget banget dirotanin lah etc, tapi better disiplin diawal lalu dewasanya tau batas, daripada saat sudah dewasa terlanjur melewati batas lalu mau didisplinkan ya sudah telat. Dengan disiplin dini dari orangtua saya, saya merasa saya tetap punya kehidupan normal. Saya tetap pacaran ala cinta monyet, tetap bisa nge-band, tetap bisa jalan sama teman-teman, tapi semua didalam batas. Orangtua saya pun ga perlu was-was nilai akademik saya jelek karena pacaran lah leave alone narkoba, karena mereka sudah menanamkan bibit dan bekerja keras di awal. Nahhhh, seperti itu parenting goal saya. Susah berat di awal, tapi tenang di kemudian hari, knowing my child will do fine. Crossing finger Sammy will turn out to be a gentleman. 🤞🏻

Soal basic life skills, lebay ga sih sebanyak itu? Coba ibu-ibu mana suaranya, betul ga kalau makin hari cari ART yang ‘normal’ semakin susah? Tipe family ideal menurut saya adalah dimana setiap family member itu memberikan kontribusi. Jadi tugas rumah adalah kewajiban bersama kalau mau punya rumah yang nyaman dan daily routines yang lancar. Bukan kalau ART pulkam, happiness is gone. They are here for HELP not to determine our happiness. No nanny, no cry, ini juga jadi family goal kami. Wish us luck! Jadi, soon saya akan ajarkan Sammy menyapu, mengepel, bahkan memasak!

Menjadi ibu itu ga ada manual booknya dan setiap hari itu banyak sekali pelajaran yang bisa didapat. Menjadi ibu baru means siap2 bingung dengan teori2 baru, harus selektif dengan exposure lingkungan dan PROAKTIF.

Saya bukan super mom, semua masih meraba-raba, masih baper-baper, masih galau-galau. Percayalah dibalik postingan pede ini, ada suami yang setiap detik menenangkan kepanikan istrinya yang doubting herself. Tanggungjawab sebagai orangtua itu besar sekali, yaitu membesarkan anak menjadi manusia yang sesungguhnya, yang bisa survive ditengah kejamnya dunia. Saya percaya saat Tuhan titipkan anak di kita, berarti Tuhan akan berikan wisdom dan strength untuk mendidik anak itu. So I will do my best and God will do the rest. Happy parenting! ❤️

Cheers,

Mommy Sammy

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.