Pernah dengar istilah revolusi mental? Istilah ini banyak dikoarkan baik di media radio, TV, bahkan oleh pemerintah sendiri. Saya berpikir, revolusi mental sampai digalakkan dikarenakan mental bangsa kita sudah sangat bobrok dan supaya negara ini tidak hancur maka manusia-manusia didalamnya harus punya mental yang benar.

Saya merupakan bagian dari generasi millenials, dimana teknologi dan internet sudah mulai diperkenalkan sejak saya kecil. Interaksi dengan dunia luar pun sudah lebih luwes yang membuat pemikiran rasis hampir tidak ada di kepala saya karena sudah terpapar oleh diverse culture. Namun, dibalik pergaulan global, generasi angkatan saya masih merasakan ajaran masa kecil yang ‘menginjak bumi’. Saya masih diajarkan untuk mengenal lingkungan sekitar tanpa intervensi dari dunia maya. Saya masih merasakan main petak umpet di taman, nonton doraemon di hari minggu pagi sebelum ke gereja, datang mengucapkan selamat natal ke tetangga-tetangga, dan lainnya

Dimulai dari generasi Z, internet dan social media sudah mendominasi, dan bahkan yang saya lihat dari students saya dulu (dulu saya pernah jadi guru bahasa inggris di lembaga terkenal selama 1 tahun), bahkan di usia 3 tahun, mereka sudah dibekali handphone dan ipad. Pola permainan mereka pun seputar apa yang ada di internet, lagu-lagu mereka pun sudah lagu bertemakan percintaan dari band-band luar negeri, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang sudah punya akun instagram (shocking, eh?). Saya membayangkan, bagaimana nanti generasi anak saya ke depannya? Horor.

Saya sadar saya tidak bisa mengisolasi anak saya dari pengaruh dunia luar. Tapi yang bisa saya lakukan adalah membangun pondasi yang kuat dari dalam, supaya benteng pertahanan nilai-nilai hidup yang benar, akan membuat anak saya tetap berdiri tegap ditengah hantaman pengaruh buruk dari luar. Suatu hari saya melihat poster ini di internet, dan saya rasa penting untuk saya share untuk para orangtua muda sebaya saya. Membangun dan memelihara kesehatan mental anak kita sangat penting untuk bekal dia ke depannya. Karena otak pintar, harta berlimpah, tidak akan ada artinya kalau dia punya mental yang kuat. Nah, bagaimana untuk memelihara kesehatan mental anak kita, semua dimulai dari keluarga. Silakan lihat poster dibawah ini.

Courtesy of Mental Fills Counseling United States

  1. Aktif mendengarkan sebelum memberikan saran
    Pernah ga kita curhat tapi kesel sama orang yang dicurhatin karena mereka terus menerus komentar, padahal kita cuma butuh buat didengar? Sama halnya dengan anak kecil. Walaupun mereka masih kecil, bukan berarti keluh kesah mereka kita hanya dengar sekilas. Mendengar itu pasif, mendengarKAN itu aktif dan fokus terhadap orang yang sedang bercerita
  2. Sabar
    Saya rasa ini salah satu keahlian yang diperoleh seorang wanita saat jadi Ibu. Sabar tanpa batas. Baik dalam hal mengajarkan maupun merawat.
  3. Share perasaan kita dan akui perasaan mereka
    Saya selalu bilang ke Sammy kalau saya sedih karena dia ga mau makan, saya marah karena dia nakal. Dan saat dia kesal karena saya larang sesuatu, saya biasanya peluk dia dan bilang : iya, Mommy tau Sammy lagi kesal ya, it’s okay kalau kamu kesal.
  4. Tell the truth
    Apapun yang terjadi, mau itu white lies atau black lies, a lie is a lie. Jangan pernah berbohong sama anak, apapun alasannya, dia akan ingat itu dan akan sulit membangun kepercayaannya kalau anak sudah punya pemikiran ‘mungkin mama bohong’
  5. Berikan teladan
    Sebagai orangtua bukan cuma memberikan aturan, tapi juga memberi contoh. Misalnya kalau kita suruh anak makan sayur, ya kita juga harus makan sayur. Kalau kita mau anak buang sampah ditempatnya, ya kita juga ga boleh buang sampah sembarangan. Monkey see, monkey do
  6. Believe them and in them
    Kedua hal ini mirip tapi ada sedikit perbedaan. Believe them : saya percaya Sammy bilang cabai itu pedas. Believe in them : saya percaya Sammy bisa makan pakai sendok sendiri
  7. Konsisten dan tepati janji
    Sering kali orangtua hanya sekedar mengancam atau mengiming-imingi sesuatu. Biasakan untuk menepati omongan. Contoh : Saya bilang ke Sammy, kalau makan tidak dihabiskan, no snack at all. Saya benar-benar tepati itu, selapar apapun dia, no snack at all. Sebaliknya, saat saya janji, kalau makan dihabiskan, kita langsung pergi berenang di komplek. Saat Sammy benar-benar menghabiskan makanannya, walaupun itu jam 12 siang, saya tetap bawa dia ke kolam renang untuk main air di pinggiran kolam yang teduh. Intinya, konsisten dengan apa yang kita ucapkan. Build trust.
  8. Relaksasi bersama
    Setelah hari yang panjang, pastinya melelahkan untuk orangtua, usahakan sisihkan waktu untuk unwind dan relax bersama anak. Entah baca buku cerita di tempat tidur, bedtime stories, mendengarkan lagu, apapun yang membuat parents dan anak bisa santai bersama. Intinya, bonding session
  9. Recognize positive choices
    Berikan compliment saat anak memilih sesuatu yang positif atau benar. Cukup bilang : good job, well done. Jadi di lain waktu dia ingat bahwa saat dia memilih sesuatu yang positif, orangtuanya notice itu
  10. Tetapkan dan hargai batasan
    Walaupun kita orangtua, ada batasan dimana kita tidak bisa trespass ke anak kita. Misalnya, saat Sammy marah dan dia mau sendiri, saya ga akan paksa tarik dia buat duduk sama saya. Saya akan berikan dia waktu untuk kelola emosinya dulu, baru setelah tenang saya dekati. Karena anak kecil pun butuh privacy
  11. Make play and exercise menjadi sebuah kewajiban
    Bermain dan olahraga menjadi jadwal penting yang saya tetapkan untuk Sammy, mungkin karena saya berpikir anak saya laki-laki dan butuh stimulus untuk mengeluarkan energi. Saya selalu menjadwalkan Sammy untuk berenang setiap minggunya, dan bermain yang menggunakan motorik setiap harinya
  12. Sikapi perilaku mereka sebagai cerminan perasaan mereka
    Saat anak melempar barang, teriak, menangis, coba kenali apa yang sebenarnya mereka rasakan. Bisa saja saat itu mereka frustasi karena tidak bisa pakai sendok, atau kesal karena tumpukan legonya tidak terbentuk sesuai keinginan mereka. Jangan langsung bereaksi dengan memarahi mereka, karena anak kecil masih belum bisa meregulasi emosi mereka dengan baik
  13. Tetap tenang walaupun mereka sedang emosi
    Ini yang sulit sekali dan saya pun masih belajar. Di tengah kondisi saya yang lelah karena seharian mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saat Sammy marah-marah, saya sering jadi balik marah ke Sammy. Di saat Sammy tantrum, saya masih sering panik, takut malu dilihat orang ga bisa didik anak, dimana seharusnya saya tetap tenang. Percaya atau tidak, anak bisa ‘membaca’ emosi orangtuanya, kalau orangtuanya panik, mereka akan semakin ‘menjadi-jadi’
  14. Be Present
    Ini berarti bukan hanya ada di sebelah si anak ya, tapi benar-benar berinteraksi dengan anak. Kalau anak main, bukan berarti kita duduk disampingnya sambil main sosmed itu sudah cukup. Be present, tinggalkan handphone sejenak, dan fokuslah dengan anak
  15. Model Forgiveness
    Saying sorry itu menjadi salah satu ajaran mutlak saya ke Sammy. Sama siapapun, ke orangtuanya, grandparentsnya, temannya sampai waiter di restaurant sekaligus, saya ajar Sammy untuk minta maaf kalau dia buat ulah/salah. Sebaliknya, saya juga harus jadi teladan untuk Sammy, saat saya buat salah, saya akan bilang ke Sammy : Sorry ya Sammy tadi Mommy bla bla, will you forgive me?
  16. Use open ended question
    Saat ini Sammy belum bisa menjawab pertanyaan saya, dia baru bisa bilang mau dan ga, ya dan tidak. Yang saya pelajari saat saya jadi teacher, selalu gunakan pertanyaan yang jawabannya tidak diakhiri dengan yes/no. Kenapa? Kita mau anak mencoba menjelaskan apa yang mereka mau, apa  yang mereka pikir, apa yang mereka rasakan. Hal ini juga melatih otak mereka untuk merangkai kata-kata untuk diekspresikan
  17. Teach them how to be safe
    Ini hal simple yang sering dilupakan. Saya akan mengajarkan Sammy mengenai berinteraksi dengan orang asing, dan bagaimana membuat dirinya aman dari bahaya. Sekarang ini Sammy masih di usia dimana saya yang harus proaktif untuk menghindarkan bahaya dari dia.
  18. Kelilingi anak dengan healthy adults
    Healthy adults dalam hal ini bukan saja yang sehat fisiknya ya tapi sehat mentalnya. Saya berusaha menghindarkan Sammy terlalu banyak bergaul dengan orang-orang yang bisa mengajarkan pengaruh buruk untuk dirinya. Perbanyak interaksi anak dengan orang dewasa yang punya mental baik, misalnya manner yang baik, tata bicara yang sopan, pola pikir yang membangun dan lainnya. Makanya dengan orangtua saya sendiri bahkan saya menerapkan rules yang sama untuk mereka terapkan ke anak saya juga
  19. Miliki family time yang terjadwal
    Suami saya kerja setiap hari, berangkat subuh, pulang malam. Saya selalu berusaha untuk membuat weekends adalah waktu keluarga, jadi tidak ada pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah untuk dikerjakan weekends. Saya juga berusaha membuat jadwal pergi keluar negeri dan luar kota beberapa kali dalam setahun. Karena kalau tidak dijadwalkan pasti akan sulit terlaksana dan family time tanpa ada gangguan dari pekerjaan itu sulit didapatkan loh
  20. Batasi penggunaan gadget untuk setiap anggota keluarga
    Ini aturan yang saya terapkan untuk keluarga saya, yang berarti juga berlaku untuk saya dan suami. Contoh : no cellphone di atas meja makan saat makan, no TV and gadget saat bermain dengan anak.
  21. Reach out and Hug them
    Sammy sedang diumur sedang tantrum dan saya rasa akan berulang disaat nanti dia remaja. Sebenarnya ini juga berlaku untuk semua manusia, disaat kita sedang marah, sedih, kesal, pastinya kita mau ada orang yang mendekati dan memeluk kita assuring everything is gonna be alright. Seringnya saat tantrum, Sammy ga mau disentuh, jadi yang saya lakukan, saya duduk di dekat dia tanpa melakukan apapun, dan disaat dia sudah mulai tenang baru saya tawarkan pelukan sambil bilang : Mommy is here, you’re gonna be fine

Kurang lebih seperti itulah interpretasi saya terhadap poster itu, dimana saya menyesuaikan dengan parenting style untuk anak saya yang masih berusia 16 bulan. Saya cukup lega karena apa yang saya lakukan selama ini sudah on track untuk mental anak saya. Hidup kedepannya pasti akan semakin banyak tantangan, jadi tugas saya sebagai orangtua adalah menjadikan anak saya seorang manusia yang punya mental bagus untuk overcome every struggle in life. Happy Parenting!