Saat saya pertama kali menjadi new mom, seluruh fokus hidup saya tertuju pada Sammy… kebutuhan dia, kesehatan dia, berapa kali dia pee/poo dalam sehari, sampai ke ‘is he breathing normally?’ Beberapa bulan pertama bahkan yang saya pikirkan adalah bagaimana saya ‘mengisi’ tubuh saya dengan segala macam asupan makanan/vitamin supaya saya bisa produksi ASI yang berkualitas UNTUK SAMMY. Bahkan sering kali saya sudah mau muntah karena makan segala macam sayur buah dan sering kali hampir pingsan kelelahan karena mengurus Sammy sendiri, tapi saya selalu tetap dalam survival mode.

Sebagai new mom, saat itu ada banyak yang ingin saya katakan, but I can’t. Entah karena merasa ga pantas mengatakan itu, merasa jadi ibu kok lemah, merasa egois terhadap anak, dan ribuan destructive thoughts lainnya. Perhatian orang ga lagi ke saya, tapi ke Sammy. Practically no one cares to ask,’How are you feeling?’ Sadly, kalaupun ada yang bertanya, jawaban yang bisa saya berikan mungkin hanya akan berupa, ‘I am exhausted.’ Yes, saya bahkan terlalu lelah untuk menjelaskan semua yang saya rasakan.

As new mothers, beberapa diantara kita mungkin akan merasa semua jadi ‘too much to handle’. The ugly truth is, it is indeed hard. Motherhood is probably the hardest thing you will ever face in this life and frankly speaking, it won’t be done until you are vanished from this planet earth. Di blog post ini, saya mau share beberapa hal yang saya rasakan saat menjadi new mom dan MUNGKIN AKAN/SEDANG kalian rasakan sekarang.

  1. I feel like a failure
    Berat badan Sammy drop 200 gram di hari kedua karena saya belum bisa mengeluarkan ASI. 3 bulan pertama Sammy colic. Dia ga bisa tidur malam kalau tidak dipeluk, jadi saya harus tidur sambil duduk. Sammy kena Sensoric Processing Disorder. Saya merasa gagal menjadi seorang ibu, saya menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu yang buruk yang terjadi pada Sammy.
    LESSON TO LEARN : IT IS NOT YOUR FAULT, you are adjusting to your new role
  2. I feel lonely
    Suami saya bukan berasal dari keluarga yang dekat satu sama lain, unlike my family. Jadi bayangan saya bahwa saya akan punya suami yang punya father figure, yang inisiatif terbangun kalau baby menangis, yang tanpa disuruh sudah excited untuk mengurus anak, SEMUA BUYAR. For months, saya sering menangis sendirian karena saya merasa sendirian dalam mengurus Sammy. Saya merasa kok hanya saya yang lelah, kurang tidur, dan stress mengurus anak. Saya iri dengan suami-suami teman saya yang begitu perhatiannya dengan well-being istri dan anaknya.
    LESSON TO LEARN : I expected too much, and expectation leads to heartache. STOP EXPECTING dan sampaikan yang Moms mau ke suami ya. He can’t read your mind.
  3. I feel ugly
    Berat badan saya naik 25 kilogram saat hamil Sammy. Bekas stretchmark dan selulit sampai detik ini masih tergambar jelas ditubuh saya. Perubahan payudara yang drastis. Ukuran sepatu saya tidak bisa kembali seperti semula. Baju-baju saya tidak muat dan saya harus pakai nursing clothes yang jelek. Mata berkantung. Kulit muka saya dehydrated. Saya benci melihat diri saya di kaca. Berbahagialah kalian para new moms yang diberkati dengan tubuh langsing seperti Kate Middleton, setelah melahirkan. Kebetulan, tubuh saya tipe yang sulit sekali kurus kalau ga olahraga. Tapi bagaimana mau olahraga, untuk mandi sendiri saja ga bisa. It’s been a year, I’ve been bullying my own body image and I decided, kalau saya ga bisa mengubah keadaan saya, berarti pola pikir saya yang harus diubah.
    LESSON TO LEARN : Maintain kenaikan berat badan dan perawatan sejak masih hamil. Jangan karena sedang hamil jadi makan boleh sebanyak-banyaknya. Jangan juga berpikir kalau setelah melahirkan akan ada waktu untuk merawat diri, WRONG! Ya kecuali Mom punya caregiver yang bisa diandalkan untuk mengurus si newborn baby dan punya waktu banyak untuk treatment di klinik kecantikan ternama setelah melahirkan
  4. I wish people would stop criticizing and shut up
    “Kok ASInya ga kental sih?” “Kenapa ga dipakein popok aja?” “Jangan keseringan digendong nanti bau tangan” “Kalo Mama sih dulu begini” “Kok ga digundulin rambutnya?” Ditengah hormon saya yang sudah drop banyak, kurang tidur, super kelelahan, komentar-komentar seperti itu easily gets me irritated. Iya sih tujuannya baik, but THIS IS MY CHILD. Rasanya saya ingin berteriak ke semua orang, hey saya yang mengandung selama 10 bulan, saya yang berjuang hidup dan mati melahirkan anak ini, jadi saya punya hak prerogatif atas anak ini, and I know what’s best for my son. BUT I CAN’T. Simply karena saya harus play nice dan act polite.
    LESSON TO LEARN : Selama beberapa bulan pertama, batasi tamu yang datang berkunjung dan batasi berinteraksi dengan orang-orang yang sekiranya hobi ceramah. Minta suami untuk turun tangan ‘membela’ Moms dengan merespon pada komentar-komentar itu. Daripada Moms meledak dan merespon dengan sengak, ya kan?
  5. I yelled at my baby sometimes
    2 bulan pertama saya mengalami baby blues and no one knows about it. Beberapa kali saya berteriak ke Sammy saat dia menangis tanpa henti dan ga mau diam walaupun sudah ganti diaper, sudah nenen, dan digendong. Saya frustasi and I hope he can be quiet just so I can catch up some sleep. Ada saat-saat dimana saya kesal sekali sama Sammy dan ga mau sentuh dia.
    LESSON TO LEARN : LET IT BE. Saat Moms sudah merasa mentok, biarkan saja baby menangis sebentar (it won’t kill them to cry 15-20 minutes), cuci muka, tarik napas dalam-dalam, makan ice cream/chocolate, tutup muka pakai bantal lalu teriak sekencang-kencangnya. That’s what I did. Tapi pastikan baby tidak dalam keadaan sakit atau berbahaya ya.
  6. I hate Most Instagram Influencer Moms
    Social media itu bagus tujuannya, tapi seringnya social media itu intoxicating. Berapa banyak Instagram Moms yang pamer ASI berbotol-botol sedangkan ASI kita seret. Berapa banyak Instagram Moms yang dandan cetar membahana sambil gendong baby yang seperti malaikat, sedangkan kita pakai daster, rambut kucel dan baby lagi meraung-raung seperti di-exorcist. Percayalah, semua foto yang dipost oleh selebgrams itu sudah disetting. Hampir semua review product yang mereka review adalah hasil endorse dan mereka obligated to say nice things.

    Saya pernah lihat video salah satu influencer mother memposting video anaknya makan SAMBIL TIDUR dan menulis caption : kalau mau gendut, makanlah sambil tidur. WHAT??! Clearly ini sangat sangat berbahaya dan salah, bayi tidak boleh makan sambil tidur karena bisa masuk ke pecernaan apalagi jika terus menerus dimasukkan makanan ke mulutnya. Bayangkan kalau followernya mengikuti cara dia menyuapi anak, hanya supaya anak mereka gendut seperti anak si influencer mother ini. Most of them posting di social media because IT IS HOW THEY MAKE A LIVING, anggap saja seperti artis. Mereka memberikan feed yang follower mereka ingin lihat. Lalu apakah itu salah? Ya ga lah, Moms. Dimana-mana rumput tetangga selalu lebih hijau.
    LESSON TO LEARN : Jangan mudah percaya dengan apa yang Moms lihat. Kenyataannya belum tentu seindah apa yang di post di social media. Bijaklah dalam menyaring informasi.

  7. I am traumatized to have a baby
    Ya saya sadar sih pikiran saya ini pasti berubah. Sampai detik saya menulis post ini, setiap suami saya, orangtua, teman-teman saya tanya,”kapan punya anak kedua?” Jawaban saya selalu : saya bisa gantung diri kalau punya anak lagi sekarang saat Sammy masih kecil. Ngaco sih omongan saya, but that’s how traumatic for me to have a baby. Saya trauma punya anak. Kebetulan saya mungkin salah satu dari 90% populasi ibu yang hampir ‘gila’ karena drama motherhood ini.
    LESSON TO LEARN : Fokus saja dulu ke anak yang sekarang. Jangan mengambil responsibility terlalu banyak disaat sekarang saja kita masih berdarah-darah. Sembuhkan dulu mental health kita, baru kita bisa berpikir sehat untuk second baby.

Menjadi seorang ibu ternyata sangat amat sulit dari yang awalnya saya pikir. It has been the biggest reality check of my life. Akan tetapi, selama 16 bulan saya menjadi ibu, banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan, some of the best life lessons for me so far. Hari-hari begadang, struggles, learning curves, keluarga dan sahabat saya, semuanya membantu saya untuk discover my new identity as a mother. It’s far from perfect, but it is a new journey I am proud to call my own. And Mom, you should be proud of yourself too.

Cheers,

Mommy Sammy