Untuk para calon ibu yang sudah masuk trimester akhir, gimana, sudah deg-degan belum untuk persalinan? Penasaran ga dengan apa yang sebenarnya akan terjadi selama persalinan? Horor ga sih ruang bersalin itu? Ngapain aja sih sebenarnya di ruang bersalin? Sebenarnya persalinan itu sudah dimulai sejak adanya tanda-tanda awal dimana pada saya dimulai dengan keluarnya mucus (lendir kental seperti ingus). Di post ini, Mommy Sammy mau cerita pengalaman pribadi waktu bersalin ya, kebetulan saya mengalami persalinan normal, jadi saya cerita dari sudut pandang persalinan normal.

Selasa, 13 December 2017

Per hari ini, usia kandungan saya sudah masuk 38 weeks. Perkiraan dr Irham dan dr Handaya dulu, Sammy akan lahir sekitar tanggal 13 December 2017. Sedangkan dr Ferdhy ga spesifik bilang tanggal, tapi intinya akan ditunggu sampai 24 December 2017. Jam 3 sore, saya mau buang air kecil, dan saya lihat di underwear saya ada lendir hijau pekat seperti ingus, dengan tekstur seperti jelly, tidak bisa dipisahkan. Karena sudah dibekali ilmu selama senam hamil di RS St. Carolus, jadi saya sudah menduga kalau ini sudah masuk persalinan. Tapi anehnya, sama sekali ga ada darah yang keluar. Saya juga sama sekali ga merasa mules atau kontraksi. Saya kontek dr Ferdhy dan dokter bilang tunggu mules baru ke rumah sakit. Saya beraktivitas biasa dan berusaha untuk memancing kontraksi dengan main gym ball, jongkok berdiri, dan jalan-jalan dalam rumah. Saya juga minum air rebusan kayu manis yang konon katanya bisa mempercepat kontraksi namun tidak berbahaya seperti rumput fatimah. Sampai malam, tidak ada tanda-tanda bloody show dan saya juga tidak merasakan kontraksi sama sekali.

Rabu, 14 December 2017

Sekitar jam 2 pagi, saya terbangun karena tiba-tiba merasa nyeri di bagian perut bawah. Saya coba tidur karena saya pikir ini kontraksi palsu lagi atau mules biasa. Sekitar jam 3 pagi, rasa nyerinya mulai terasa mengganggu, tapi saya masih tenang saja sambil tiduran miring. Saya kontek dr Ferdhy dan dokter bilang, coba diihitung dulu interval kontraksinya, kalau semakin cepat saya diminta ke rumah sakit. Sekitar 30 menit kemudian, mulesnya mulai terasa tembus ke pinggang belakang, saya sudah merasa ini ada yang tidak beres. Akhirnya saya bangunkan mami saya (saya menginap di rumah ortu sejak 2 minggu sebelum lahiran) dan bilang kalau interval kontraksi saya sudah per 5 menit. Dokter Ferdhy juga langsung minta saya ke rumah sakit dan langsung ke bidan. Ingat ya, kalau sudah mulai kontraksi, ga perlu lagi daftar-daftar di rumah sakit, langsung saja naik ke ruang bersalin dan temui bidan.

Akhirnya sekitar jam 6, saya sampai di rumah sakit dengan ditemani orang tua saya. Saya langsung masuk ke ruang observasi dan dipasang alat CTG. Saat dicek ini, saya sudah masuk pembukaan 2, interval kontraksi per 3 menit, tapi kepala bayi masih jauh di atas. Berhubung saya bukan tipe manja, saya minta ijin untuk jalan-jalan di hall depan ruang bersalin. Pada posisi ini, saya sudah tidak dijinkan untuk pulang.

Nah, sekarang saya jelaskan ya, apa yang terjadi kalau Mommies sudah masuk observasi.

RUANG OBSERVASI

source : www.rsiagrandfamily.com

Saat pertama kali masuk ruang bersalin, ada 2 jenis ruangan, pertama ruang observasi dan jika masuk lebih dalam lagi akan ada beberapa ruang VK (Verlos Kamer). Disini juga ada nurse station yang isinya para bidan. Mommies akan diobservasi dulu di ruangan ini. Isinya beberapa tempat tidur yang dilengkapi dengan mesin CTG di samping ranjang. Kecuali Mommies sudah pecah ketuban, Mommies akan diobservasi dulu disini, dicek pembukaan, menahan sakitnya kontraksi, semua disini. Awalnya saya kira akan di kamar rawat inap biasa, seperti di film-film, ternyata tidak. Yang diperbolehkan masuk ke ruangan ini hanya 1 orang pendamping saja. Di ruangan ini sebenarnya persis dengan ruang rawat inap, makan dan minum akan diantar juga kesini, hanya saja mungkin lebih tenang ya karena tidak ada TV dan tidak terlalu banyak orang selain pendamping dan bidan.

Saat observasi, Mommies akan dipasang alat CTG (cardiotography). Alat CTG ini adalah alat yang digunakan untuk memantau denyut jantung baby dan kontraksi rahim saat baby dalam kandungan. Fungsinya, jika ada perubahan pada denyut jantung baby atau kontraksi rahim, bidan dan dokter dapat segera memberi pertolongan. Alat ini bukan hanya digunakan untuk Mommies yang sudah masuk persalinan, tapi untuk Mommies yang merasa pergerakan babynya melemah, adanya masalah air ketuban, dan lainnya.

Saya lupa persisnya berapa lama saya dipasang alat ini. Alat CTG ini dipasang selama beberapa waktu, lalu dilihat hasilnya, lalu bidan akan mengecek pembukaan secara manual. Manual yang saya maksud adalah bidan/dokter akan memasukkan setengah telapak tangannya ke alat kelamin Mommies supaya jarinya dapat menyentuh mulut rahim. Tujuannya untuk mengecek mulut rahim sudah membuka seberapa besar. Sakit? Honestly, YES! Bayangkan tangan masuk, you can imagine. Tapi jangan khawatir, sakitnya kontraksi bisa mengalihkan sakitnya dicek manual ini.

Nah, setelah dicek CTG dan pembukaan manual ini, Mommies masih boleh jalan-jalan kok untuk merangsang pembukaan. Nanti biasanya akan diminta kembali untuk cek setelah beberapa waktu. Saat itu saya dari pembukaan 2 ke pembukaan 3 memakan waktu 7 jam. Sakitnya kontraksi jangan ditanya ya. Saya cuma bisa terdiam sambil gemetar. Jadi ga seperti di film-film yang teriak-teriak, saking sakitnya menahan sakit kontraksi, saya cuma bisa diam gemetar sambil berusaha atur napas.

Saat masih pembukaan awal 1-3, usahakan untuk makan dan minum. Saya kemarin ini akhirnya diinfus karena saya bahkan ga nafsu untuk makan minum, akibatnya mulai terlihat tanda-tanda saya dan baby dehidrasi.

RUANG VK

source : www.rsiagrandfamily.com

Nah, kalau Mommies mau pakai epidural atau ILA (Intrathecal Labor Analgesia), pembukaan 3 ini adalah saat yang tepat untuk injeksi. Kalau Mommies memutuskan pakai epidural atau ILA , selanjutnya Mommies akan pindah ke ruangan ini, ruang VK. Walaupun tujuannya sama untuk MENGURANGI (bukan menghilangkan) rasa sakit karena kontraksi, ada sedikit perbedaan antara epidural dan ILA.

Epidural/ILA ini bius lokal yang dapat blocking rasa sakit dari daerah epidural (salah satu bagian dari susunan saraf pusat di bagian tulang belakang) ke bawah. Bedanya, pada epidural, dokter anestesi akan memasukkan flexible catheter ke dalam daerah epidural ini, dan lewat selang ini bidan/dokter dapat menambahkan dosis obat selama beberapa jam sekali. Kalau ILA, prinsipnya hanya satu kali suntik dan obat akan bertahan 3-4 jam, jika lewat dari 3-4 jam pembukaan belum juga sempurna, maka operasi c-section harus dilakukan. Epidural bisa disuntikkan dari sejak bukaan awal, sedangkan ILA disuntikkan setelah masuk pembukaan 3-4. Saya memilih epidural karena melihat pergerakan pembukaan dari 2 ke 3 saya memakan waktu 7 jam, dan setelah 8 jam saya masih di pembukaan 3, jadi saya rasa kalau pakai ILA maka efek obat akan habis sebelum baby saya lahir. Lebih lengkap mengenai epidural akan saya jelaskan di blog post lain.

Di tempat tidur itu Mommies akan melahirkan si kecil. Ruangan ini tempat tidurnya khusus ya, ada pegangan tangannya kalau Mommies perlu pegangan saat mengejan, ada tempat untuk meletakkan kaki, dan bisa dimiringkan keseluruhan (bukan dinaikkan sandaran ya). Ruangan ini pun dilengkapi oleh alat untuk medeteksi denyut jantung Mommies, alat CTG, ranjang untuk observasi si baby nanti saat baru lahir. Di ruangan ini pula Mommies akan stay untuk pemulihan setelah melahirkan. Ruangan ini tidak dilengkapi dengan kursi yang nyaman untuk pendamping, hanya ada 1 kursi hitam itu, jadi kasihan pendampingnya. Nah, waktu kemarin saya persalinan, berhubung pembukaan masih jauh, jadi saya suruh suami untuk stay saja di kamar rawat inap yang sudah saya booking untuk saya tempati setelah melahirkan dan saya akan minta perawat hubungi dia jika sudah masuk pembukaan 9.

 

Foto diatas menunjukkan saya sudah dipasang epidural, alat deteksi denyut jantung, labu oksitosin untuk induksi, selang oksigen di hidung dan alat CTG. Bisa tidur? Pastinya ga bisa. Saya light sleeper, jadi suara mesin EKG dan mesin CTG sangat mengganggu saya. Belum lagi ditambah efek epidural di saya hanya bertahan 1 jam (harusnya sekali suntik bisa 4 jam) dan pemberian oksitosin sintetis (induksi) membuat sakitnya kontraksi semakin parah. Jujur, pada detik ini saya sudah ga ada energi.

Setelah baby keluar, persalinan belum selesai. Mommies masih harus mengeluarkan plasenta dan dokter masih harus menjahit daerah perineum (jika terjadi robekan). Setelah baby keluar, baby akan diperlihatkan ke Mommies, lalu dibawa oleh bidan/dokter anak ke kotak kecil di samping tempat tidur bersalin Mommies. Sadly, saat persalinan saya kemarin, sama sekali tidak ada dokter anak, jadi Dokter Ferdhy yang harus pegang anak saya dan bidan yang bantu saya mengeluarkan plasenta. Di kotak kecil itu pula baby akan diberikan suntikan vitamin K, diukur panjang dan berat badannya.

Setelah anak dibersihkan, dicek nilai APGAR (Activity/aktivitas otot, Pulse/denyut jantung, Grimace/respons refleks, Appearance/penampilan terutama warna tubuh bayi, dan Respiration/pernapasan), dan Mommies sudah selesai dijahit robekan perineumnya, proses IMD (inisiasi menyusui dini) akan dimulai. Yes, semua dilakukan di ruang bersejarah ini, ruang VK. Selesai IMD, Mommies masih akan stay di ruangan ini untuk pemulihan untuk observasi seandainya ada pendarahan setelah postpartum yang mana efeknya akan sangat fatal, dan baby akan dibawa oleh perawat kamar baby untuk diobservasi.

Mulai dari baby keluar sampai proses pemulihan selesai ini memakan waktu sekitar 4 jam. Perawat dari bagian rawat inap akan datang membawa ranjang untuk memindahkan Mommies dari tempat tidur bersalin ke tempat tidur yang akan Mommies pakai selama beberapa hari kedepan. Nah, berhubung saya melahirkan normal, jadi sesampainya di kamar rawat inap, saya sudah segar bugar, dan rasanya pengen mandi. Tapi sebaiknya, Mommies dan suami beristirahat dulu sebentar ya karena pastinya proses persalinan pasti melelahkan jiwa raga.

Kurang lebih seperti itu kondisi yang akan terjadi saat persalinan normal. Menegangkan? Pastinya. Melelahkan? Jangan ditanya. But believe me, saat suara tangisan si kecil sudah terdengar, semua sakit dan lelah hilang dalam sekejap. Saat kemarin Sammy akhirnya keluar dan pertama kali saya dengar tangisan dia, saya menangis sampai sesenggukan. Sungguh ajaib proses persalinan ini. Pesan saya, banyak berdoa dan berserah, dalam kondisi persalinan, semua keputusan sangat crucial, jangan ngotot harus melahirkan dengan cara apa, fokuslah pada keselamatan Mommies dan baby ya. Happy Mothering!

Cheers,

Mommy Sammy

 

 

 

 

 

 

 

.