Hola Mommies! Siapa yang anaknya sedang dalam masa-masa semakin nakal dan mudah tantrum? Yes, Sammy sekarang sedang hobi untuk testing kesabaran saya dan jadi lebih nakal dari biasanya. Mulai dari yang biasanya dia mau tidy up mainan-mainannya, sekarang dia bisa dengan sengaja menatap mata saya, sambil bilang ” No No” lalu ngeloyor pergi. Apa yang saya bilang ga boleh dan dia sudah tahu itu ga boleh akan dengan sengaja dia langgar. Kalau dipaksa dan dilarang, pastinya akan berakhir dengan tantrum. Ide time-out yang sedang hits beberapa kali saya coba dan surprisingly, GAGAL di Sammy. Ternyata time-out tidak selalu bisa berhasil di setiap anak.

Di post ini saya ga akan membahas lagi mengenai tantrum karena di social media sudah cukup banyak ya penjelasan mengenai tantrum. Saya akan spesifik membahas mengenai time-out. Apa itu time-out? Pro dan kontra time-out? And why time-out doesn’t work on Sammy?

APA ITU TIME-OUT?

Time-out pertama kali dipopulerkan oleh Arthur Staats sekitar tahun 1950an sebagai salah satu cara untuk memindahkan anak dari aktivitas mereka yang sedang berlangsung – untuk periode yang sangat singkat, jika mereka act out. Cara ini terbukti berhasil selama bertahun-tahun untuk memperbaiki tingkah laku anak.

Istilah time-out sering dipakai dalam pertandingan olahraga, dimana pemain meminta break sebentar pada wasit dari permainan dengan maksud supaya saat permainan dimulai lagi dirinya sudah lebih prima dan memberikan performance yang lebih baik. Time-out pada anak diberikan apabila orangtua merasa behaviour anak sudah memburuk dalam suatu situasi sehingga akhirnya anak harus DIPINDAHKAN (REMOVED) dari situasi yang sedang berlangsung. Misalnya, saat anak sedang bermain dengan temannya, tiba-tiba dia memukul temannya karena tidak mau sharing. Dalam kondisi seperti itu karena si anak memukul dan itu dianggap sebagai penurunan behaviour, maka orangtua memindahkan si anak dari permainan tersebut untuk merenungi perbuatan memukul yang baru saja ia lakukan.

Time-out untuk anak ini sering sekali disalah artikan sebagai punishment (hukuman), padahal esensi yang sebenarnya adalah memberikan waktu pada anak untuk menghentikan si anak mengulangi bad action-nya dan memberikan waktu pada anak merenungi perbuatan dia yang buruk. Time-out banyak digunakan oleh parenting ‘experts’ untuk menggantikan hukuman fisik jaman dulu. Kalau dulu waktu kecil saya nakal, mami saya ga akan segan untuk langsung ambil rotan dan pukul saya. Seiring berjalannya waktu para pakar psikologi anak tidak membenarkan hukuman fisik untuk memperbaiki bad behaviour sehingga muncul lah istilah time-out.

ARGUMEN MENGENAI TIME-OUT

Time-out sebenarnya membantu si anak untuk menenangkan diri dan juga membantu orangtua untuk tidak bertindak gegabah akibat emosi sesaat.

Time-out memang terlihat non-violent jika dibandingkan dengan hukuman fisik jaman dulu. Namun, banyak dari para psikolog anak berpendapat efek traumatis yang ditimbulkan sama. Time-out bisa ‘menaklukan’ bad behaviour anak karena cara ini menitikberatkan pada kebutuhan dasar anak : connection. Sistem emosi anak masih berpusat pada kedekatan hubungan dengan the main caretaker (dalam hal ini orangtua) dan time-out diyakini menekan secara negative kebutuhan dasar emosi anak.

Pada proses time-out dimana BIASANYA orangtua akan memindahkan si anak untuk duduk/berdiri di suatu tempat yang netral lalu si anak diminta untuk merenungi kesalahannya. Biasanya orangtua memilih untuk menjauh sementara si anak di time-out dan menolak untuk dekat dengan si anak. ‘Alarm System’ si anak otomatis akan menekan sistem emosi mereka untuk menyelamatkan hubungannya dengan si orangtua, supaya mama papanya (atau siapapun yang memberi time-out) mau dekat lagi dengan dia. Cara seperti ini yang banyak dianggap oleh para psikolog anak sebagai ‘rejection’ (penolakan) yang mana dapat merusak hubungan orangtua-anak dan tidak mengajarkan anak apapun akan kesalahan dia. Hal ini akan membuat si anak terus mengulangi perbuatannya seiring dengan dia bertambah besar, karena dia tahu dia hanya perlu duduk diam di suatu tempat untuk beberapa waktu dan kemudian bisa kembali ke aktivitasnya.

WHY TIME-OUT DOESN’T WORK ON SAMMY?

Berkali-kali saya coba time-out pada Sammy dan selalu gagal. Bukan karena saya belum mencoba lebih sering tapi memang sebagai ibunya saya merasa karakter dan temperamen Sammy tidak cocok untuk time-out. Sammy jadi merasa saya tidak sayang lagi sama dia dan sempat menarik diri dari saya selama beberapa hari. Banyak pakar neurologi berkata bahwa anak-anak sebelum usia 4 tahun bagian otak yang mengatur self-control baru berkembang sebanyak 20%, sehingga banyak anak-anak yang bahkan tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan, terutama toddler seusia Sammy (19 bulan). Terlebih lagi, anak di usia Sammy ini belum bisa mengolah kata-kata untuk mengekspresikan perasaannya. Misalnya, bisa jadi dia pukul adiknya karena dia merasa mamanya lebih banyak menghabiskan waktu dengan adiknya, sehingga dia iri.

Kebanyakan orangtua hanya meletakkan si anak di pojok ruangan atau kursi time-out dan meminta anak untuk duduk disitu selama beberapa waktu sambil terus menerus diingatkan akan kesalahannya. Contoh : seorang anak diberikan time-out karena memukul adiknya. Si mama memberikan time-out dan berulang kali mengulangi pertanyaan kenapa memukul, ga boleh pukul sambil si anak menangis dan hal ini berlangsung sampai waktu time-out berakhir.

Satu hal yang missing disini adalah yang si anak tahu hanya dia tidak boleh memukul tapi dia tidak mengerti KENAPA TIDAK BOLEH MEMUKUL. Nah, hal ini yang para psikolog anak berpendapat kalau time-out tidak membuat anak MENGERTI tapi lebih ke takut.

Nah, Sammy itu bukan tipe anak yang bisa cuma dibilang yes dan no, karena dia akan ignore itu. Jadi dari kecil Sammy itu ga suka diajarin, dia ga suka misalnya saya ajarin cara pegang crayon, dia lebih suka observe lalu dia ikuti. Sampai detik ini, saya ga pasang baby gate untuk ditangga, dan thank God, Sammy selalu panggil saya kalau mau turun atau naik tangga. Jadi, yang saya lakukan adalah saya jelaskan ke Sammy, kalau jatuh dari tangga itu sakit, sama sakitnya seperti disuntik.

Contoh lain, waktu kemarin pergi dengan temannya, dia merebut balon punya temannya sampai temannya nangis. Saat itu saya ga langsung serta merta marahin Sammy, tapi yang saya lakukan, saya jelaskan kalau ambil barang punya orang lain tanpa ijin itu bikin sedih orang itu, lalu saya bilang : “gimana kalau balon Sammy diambil, boleh ga? Tuh lihat kokonya nangis kan, kasihan kan. Coba Sammy kembalikan nanti kokonya berhenti nangis.” And he did what I said, tanpa nangis, tanpa marah.

Time-out ga bisa berhasil di anak saya, karena kebetulan anak saya tipe strong-willed. Dia ga mau melakukan hal yang dia ga mau. Dia demand untuk tau KENAPA SAYA TIDAK BOLEH MELAKUKAN INI ITU. Jadi, saya sebagai orangtua harus tahu bagaimana saya menyikapi dan mengontrol emosi anak saya. Sejak usia 17 bulan, Sammy sudah tahu saat dia salah dan tahu cara meminta maaf. Saat Sammy tantrum, saya cenderung akan retreat dan berusaha tetap tenang. Saya ga akan berusaha mendekati dia kalau saya rasa dia tidak mau didekati, TAPI SAYA AKAN ADA DIDEKAT DIA. Biasanya hanya dengan saya diam, kurang lebih 2-3 menit kemudian dia akan dekati saya karena tau dengan mamanya diam berarti mamanya ga suka, lalu dia akan ambil tangan saya dan bilang ‘ri ri’ (sorry). Kemudian saya akan tanya, kenapa tadi dia marah, lalu saya jelaskan kenapa saya marah. Setelah itu biasanya Sammy peluk saya dan saya peluk dia lalu lihat mata dia sambil bilang : “next time jangan gitu lagi ya, kalau kesel bilang ke Mommy. Mommy sayang Sammy.”

BEBERAPA ALTERNATIF CARA SELAIN TIME-OUT :

  1. Loss of Priviledge
    Cari tahu apa kesukaan anak. Misalnya anak suka nonton youtube di iPad, beri punishmentnya dengan cara ‘mengambil’ benda favorit dia kalau dia berperilaku buruk. Contoh : Sammy itu pecinta balon. He can’t live without balloons. Jadi saat dia berperilaku buruk, saya bilang kalau kamu masih seperti ini, Mommy akan simpan balonnya dan ga boleh main balon seharian.
  2. Rewards Good Behaviour
    Saya pernah membaca suatu quote yang bertuliskan akan lebih mudah membangun karakter seseorang dengan pujian daripada dengan hukuman. Jadi, saya cenderung selalu notice setiap good behaviour Sammy sekecil apapun. Saya percaya dengan terus menerus saya lakukan itu, saya encouraging dia untuk terus berbuat baik.
  3. Role Model
    Suatu hari saya marah lalu pukul tembok untuk gain attention Sammy karena Sammy ga mau berhenti main air setelah mandi, sesaat setelah itu Sammy langsung lihat saya dan pukul tembok juga bilang “NO NO!”. Saya shock. Disitu saya sadar kalau anak saya tipe observer, saya ga bisa perintah seperti itu saja dan justru memberikan contoh buruk. Jadi yang saya lakukan, saya matikan air, lalu saya ajak dia sama-sama bereskan bath toys dan minta bantuan dia untuk ambil beberapa barang. Dengan cara ini dia merasa tidak diperintah dan dia merasa his primary caretaker mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan. Sama kasusnya ketika Sammy pukul temannya, yang saya lakukan saya minta maaf ke temannya Sammy lalu saya elus-elus tangan temannya sambil bilang : see Sammy, tangan bukan untuk pukul tapi untuk sayang.
  4. Time-In
    Ini yang biasa saya lakukan. Saya invite Sammy untuk mendekat ke saya di tempat yang netral dan express his emotions. By the time dia tenang, saya akan jelaskan WHY-nya dan minta dia untuk berjanji do better kalau mau kembali ke situation yang tadi. Sampai saat ini cara ini berhasil di anak saya. Jadi instead saya isolate dia untuk merenungi kesalahan dia, saya ajak dia merenungi kesalahan dia BERSAMA-SAMA SAYA, IBUNYA.

Untuk orangtua yang ingin mencoba menerapkan time-out untuk anak ada beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan sebelum memulai :

  1. Cek Kesiapan Anak
    Tidak ada patokan persis umur berapa anak sudah bisa time-out karena perkembangan emosi dan bahasa setiap anak berbeda-beda. Jadi lihat kondisi dan karakter anak masing-masing
  2. Berikan Penjelasan Kepada Anak
    Sebelum time-out diimplentasikan, berikan pengertian kepada anak bahwa mulai sekarang kalau dia memukul, melempar, kasar atau ada hal-hal lain yang tidak berkenan maka mama papa akan menerapkan time-out ke kamu. Hal ini untuk menghindari si anak kaget akan perubahan tiba-tiba dari orangtuanya
  3. Pilih Tempat Time-Out
    Tentukan tempat untuk menempatkan anak saat di time-out. Sebaiknya ruangan tersebut tenang dan bebas dari gangguan seperti mainan atau TV
  4. Tentukan Berapa Lama Waktu Time-Out
    Biasanya untuk anak umur 2 tahun, lamanya waktu time-out adalah 2 menit, untuk 3 tahun 3 menit, dan seterusnya
  5. Tentukan Target Behaviour yang Dianggap Buruk
    Spesifikan kategori behaviour yang dianggap buruk sehingga anak harus di time-out. Misalnya melempar barang with intention, jangan sampai saat anak maksudnya adalah melempar barang karena ingin belajar memasukkan ke ring bola, dia jadi terkena time-out
  6. Pastikan Ada Follow-Up
    Setelah anak di time-out sebaiknya orangtua melanjutkan dengan menjelaskan mengapa si anak di time-out, jangan hanya untuk memberi hukuman, tapi diberikan pengertian

 

Jujur dalam proses mendisiplinkan anak itu tricky sekali dan saya sendiri belum ada pengalaman. Sammy ini pelajaran pertama saya dalam parenting dan semua saya serba trial error. Ga ada kata benar dan salah dalam parenting, karena apa yang bisa diterapkan di anak A belum tentu cocok di anak B. Apa yang sukses di anak A belum tentu bisa sukses di anak B. Semua kembali kepada kita sebagai orangtua yang paling memahami karakter anak sendiri dan mau dijadikan manusia seperti apa si anak di kemudian hari. Happy Parenting!

Cheers,

Mommy Sammy

 

source :

https://www.parents.com/toddlers-preschoolers/discipline/time-out/children-time-outs/

https://www.askdrsears.com/topics/parenting/discipline-behavior/10-time-out-techniques

Deborah Macnamara, PhD on macnamara.ca.