Sejak usia 12 bulan sampai sekarang (19 bulan) Sammy punya masalah di makan. Opsi menyapih atas saran dr Tiwi sudah saya lakukan sejak usia 14 bulan dan terbukti sukses membuat Sammy doyan makan, tapi sayangnya hanya berlangsung selama dua minggu. Bulan demi bulan berlalu, gerakan tutup mulut (GTM) Sammy semakin parah sampai ke titik dimana dalam sehari intake makanan yang masuk hanya 2-3 sendok makan. Dari suka banget makan jagung dan ke’ek (sari pati ayam homemade), sampai akhirnya dua bulan lalu dia ga bisa nelen jagung walaupun dia minta sendiri. Belasan vitamin penambah nafsu makan, obat-obatan herbal, jamu tradisional sampai obat dokter (pronicy dan cobazym) sudah dicoba dan tidak membuat pola makan Sammy bertambah baik. Little did I know, ternyata sumber masalah GTM Sammy kali ini diakibatkan oleh Sensoric Processing Disorder (SPD) yang kembali lagi.

Semua diawali dari perjalanan Sammy ke USA selama hampir satu bulan saat usianya baru 11 bulan. Hari kedua di USA, Sammy yang tadinya di Indonesia suka makan tiba-tiba menolak semua jenis makanan yang sudah saya masak dan siapkan disana (bawa dari Indonesia), kecuali ASI dan puffs snack. Kondisi ini berlangsung selama dua bulan. Saat itu prognosis dokter mengarah ke Infeksi Saluran Kemih dan Mild Anemia. Nyatanya setelah kedua issues itu selesai pun, pola makan Sammy tidak bertambah baik.

Beberapa minggu lalu akhirnya saya putuskan untuk konsultasi langsung dengan dr Luh K Wahyuni yang dulu menangani SPD Sammy saat usia 8 bulan. Semua saya ceritakan mengenai bagaimana Sammy menolak semua jenis makanan di usia 12-13 bulan, lalu mulai jijik dengan bubur-buburan, sampai ke persoalan intake makanan hanya 2-3 sendok makan per hari. Dokter mencari tahu akar masalahnya dan ternyata semua diawali dari traveling ke USA. Saya ga pernah berpikir bahwa SPD bisa kembali lagi. Saya ga pernah tahu bahwa untuk anak SPD, perubahan yang sangat drastis (saat itu ke USA adalah flight pertama Sammy dan di USA sedang winter) seperti cuaca, suhu, orang sekitar, sinar matahari, rutinitas, kursi makan, jam makan, dan detail lainnya bisa mengacaukan pusat saraf sensorik si anak. Dokter mengatakan, di usia dini, pusat saraf sensorik belum stabil dan saat kemarin Sammy sembuh di usai 9 bulan itu BARU MULAI TEREGULASI. Perubahan drastis selama hampir sebulan itu menghancurkan lagi sistem yang mulai rapi dan membuat kusut bagian-bagian yang sedang berkembang.

Kondisi Sammy cukup kompleks dimana skill makan Sammy sudah sangat bagus, dia bisa menggunakan sendok garpu, dia bisa mengunyah nasi, pasta, mie, buah KECUALI daging-dagingan dan roti, dia juga sudah minum dari strawcup sejak usia 6 bulan dan gelas sejak usia 11 bulan. Sammy juga sudah bisa menyebutkan cukup banyak kata walaupun hanya ujung-ujungnya saja. Kondisi yang saya perhatikan cukup aneh adalah saat Sammy yang tadinya fine dengan tag baju di punggung, sejak dua bulan terakhir dia jadi bisa marah-marah dan nangis. Lalu dari yang tadinya fine dengan dipakaikan minyak telon cream di belakang telinga, sekarang jadi bisa panik nangis-nangis kalau dipakaikan lotion di daerah tengkuk dan belakang telinga. Dokter menyimpulkan pusat saraf sensorik Sammy berantakan lagi. Jadi yang harus disembuhkan adalah tactile defensiveness Sammy BUKAN ORAL MOTORNYA.

TACTILE SENSE

Tactile Senses adalah salat satu dari kelima indera utama yang berfungsi untuk merasakan lewat sentuhan. Uniknya indera peraba ini bukan hanya ada di satu tempat tapi diseluruh permukaan kulit tubuh kita, yang mana otak akan terus menerus menerima ‘pesan’, mulai dari baju yang dipakai, benda yang disentuh, makanan yang dirasakan, debu yang kelilipan mata dan lainnya. Indera ini sangat penting karena lewat indera ini kita bisa mengeksplor lingkungan sekitar kita : air, tanah, dingin, panas, kasar, licin, lembut, etc. Saat indera peraba tidak berjalan semestinya, proses merasakan yang seharusnya berjalan natural tanpa disadari, berubah menjadi tidak nyaman.

TACTILE DEFENSIVENESS VS TACTILE SEEKING

Defensive, seeking, avoiding, hypersensitive, semua memiliki inti yang sama yaitu diluar normal. Anak yang memiliki tactile defensiveness berarti dia terlalu sensitive terhadap tekstur tertentu. Contohnya seperti :

  • Muntah saat diberi makanan kasar
  • Jijik/berjalan jinjit saat jalan di pasir atau rumput
  • Benci dengan tag baju yang ada di punggung atau jenis kain tertentu
  • Lebih suka jenis makanan yang crunchy dan jijik dengan yang benyek (atau bisa juga tidak bisa crunchy tapi hanya bisa yang encer)
  • Tidak suka dipeluk atau dipegang tangannya
  • Tidak suka lotion
  • Jijik saat menyentuh makanan atau sesuatu yang basah, licin

Sammy jijik dengan makanan benyek (bubur, pudding). Sammy benci dengan tag baju sampai ke titik dia akan garuk tengkuknya sampai lecet dan nangis-nangis. Tapi Sammy fine dengan berjalan/duduk di pasir dan rumput. Dia fine dengan pegang makanan dengan jari-jarinya dan memasukkan ke mulut tanpa muntah.

Disisi lain, kebalikannya dari tactile defensive adalah tactile seeking. Anak dengan tactile seeking membutuhkan exposure yang berlebihan dari lingkungannya. Contohnya seperti :

  • Terus menerus menyentuh seluruh benda saat berjalan
  • Suka menggosok mukanya (atau bagian tubuh lain) dengan tekstur tertentu
  • Plays A LOT dengan makanan (misalnya memasukkan makanan sebanyak-banyaknya ke mulut)
  • Selalu ingin dipeluk dan dipegang tangannya (bukan dalam kasus normal saat anak minta dipeluk sesekali)
  • Suka dengan permainan yang kotor seperti membenamkan diri di lumpur, membalurkan cat ke tubuhnya

Contoh-contoh gejala diatas hanya sebagian yang umum. Tidak ada dua anak SPD yang punya gejala sama persis, ada sebagian yang mengalami, ada yang tidak. Kategori suatu behaviour anak normal atau tidak hanya bisa dinilai oleh Occupational Therapist dan Dokter Rehab Medik.

APA HUBUNGAN TACTILE DEFENSIVENESS DENGAN ANAK SUSAH MAKAN?

Anak yang memiliki tactile defensiveness cenderung hanya bisa menerima beberapa tekstur makanan tertentu (biasanya kurang dari 5 jenis). Semakin parah tingkat tactile defensivenessnya, akan semakin parah masalah picky eatingnya. Tapi perlu diingat, ga semua picky eater punya masalah di tactile sense ya.

Sammy ga mau makan karena masalah di tactile defensiveness. Indera peraba ini bertugas untuk menentukan apa yang bisa dimakan dan tidak berdasarkan tekstur sebuah makanan. Saat seorang anak menolak untuk menyentuh bisa dipastikan dia tidak mau mencoba, dan simply akhirnya menolak untuk makan. Saat anak merasa aman dan nyaman dengan tekstur makanan tersebut, otomatis dia akan ‘mengijinkan’ makanan tersebut masuk ke mulutnya. Jadi, yang perlu diperbaiki bukan mulutnya (atau nafsu makannya) tapi tactile defensivenessnya.

Diluar tactile sense ini masih ada dua indera lagi yang berperan penting dalam urusan makan : proprioceptive dan oral. Keduanya saya bahas di post terpisah. Demikian penjelasan saya mengenai masalah GTM Sammy yang diakibatkan oleh Sensoric Processing Disorder dimana titik beratnya di tactile defensiveness. Diharapkan dengan indera tactile Sammy berada di posisi normal seperti anak kebanyakan maka dengan sendirinya pola makan akan membaik.

APA BEDANYA PICKY EATER BIASA DENGAN PICKY EATER KARENA SPD?

Kalau picky eater biasa, tidak ada efek samping dan reaksi yang berlebihan yang timbul. Biasanya mereka bisa dibujuk dan cenderung masalah preferensi. Tapi untuk anak picky eater KARENA SPD, it causes sensory overload. Apa itu sensory overload? Muntah, nangis jerit-jerit, panik attack, dan lainnya yang ga wajar. Contoh saat Sammy saya berikan bubur, efeknya adalah dia akan nangis panik sambil terus memukuli mulut dan kepalanya. Hal ini dikarenakan sensasi yang dia terima dari bubur menimbulkan rasa sakit. Saya pernah diberitahu contoh kasus anak picky eater yang sensitif dengan rasa manis, ketika diberi minuman manis, rasanya untuk dia seperti makan 1 centong gula biang. Jadi, untuk anak picky eater karena SPD, untuk ‘melindungi’ dirinya dari mental pain atau pain yang sebenarnya, mereka memilih untuk selektif terhadap makanan apa yang masuk ke mulutnya. Ini menjawab kebingungan saya saat Sammy memilih untuk tidak makan selama 24 jam ketimbang makan apa yang saya sediakan. It’s simply lebih baik dia kelaparan ketimbang merasa kesakitan (physical or mental).

Kurang lebih seperti itu penjelasan Mommy Sammy mengenai Sensoric Processing Disorder pada tactile sense. SPD ini masih jarang sekali yang tahu walaupun di luar negeri sudah lebih developed dokter anaknya dengan kasus SPD. Cerita perjalanan terapi Sammy, pertanyaan-pertanyaan umum yang saya tanyakan ke Occupational Therapist semua ada di highlight instagram saya mengenai SPD. Saya berharap blog post saya dapat membantu ibu-ibu yang ga menemukan jawaban dari kasus GTM anaknya, karena ga semua GTM itu berakar dari nafsu makan, kondisi medis (alergi, ISK, anemia, pencernaan) dan kondisi fisiologis, dan hal mengenai SPD ini yang bahkan amat sangat jarang dibahas oleh dokter anak.

Cheers,

Mommy Sammy