Hola Mommies! Lama saya ga update mengenai Sensory Processing Disorder (SPD) Sammy ya saking sibuknya. Jadi tepat dua minggu lalu, terapi Sensori Integrasi (SI) Sammy akhirnya selesai. Progress Sammy termasuk cepat ya karena dalam 3 minggu, Sammy sudah maju banget dalam hal makan. Memang concern awal saya adalah persoalan makan Sammy dimana ternyata triggernya adalah SPD yang kembali lagi (baca ceritanya disini). Nah di blog post kali ini saya mau bahas mengenai perlu atau tidaknya terapi Sensori Integrasi.

Setelah saya sharing mengenai perjalanan SPD Sammy di Instagram highlight saya, banyak sekali ibu-ibu yang direct message menanyakan gejala anaknya dan apa perlu terapi juga. Jujur saya ga bisa kasih jawaban yes or no, karena perlu atau tidaknya itu yang menentukan dokter rehab medik dan occupational therapist. Kalaupun seorang anak ada sensory issues, itu BUKAN BERARTI anak itu butuh terapi loh. Pada dasarnya setiap manusia itu punya yang namanya sensory preferences and quirks, karena setiap manusia itu memproses input sensori dengan cara yang unik dan berbeda-beda. Contoh ya, sampai di usia saya yang sekarang, saya hanya nyaman dengan bahan baju tertentu dan saya selalu jinjit kalau ke kamar mandi basah. Bedanya, saya sebagai seorang manusia dewasa sudah bisa mengontrol diri saya sehingga saya tidak histeris hanya merasa annoyed. Nah, anak kecil belum punya kemampuan kontrol itu.
Untuk lebih membantu ibu-ibu, coba dijawab beberapa pertanyaan berikut ini kalau masih penasaran apakah anaknya butuh konsultasi dengan dokter terkait terapi sensori integrasi :

  1. Apakah masalah sensory anak anda mengganggu kelangsungan hidupnya dengan sangat signifikan?
  2. Apakah masalah sensory anak anda mempengaruhi kesehariannya sebagian besar waktu atau SETIAP WAKTU?

Kalau Mom menjawab ‘ya’ untuk salah satu dari pertanyaan di atas, mungkin sebaiknya Mom berkonsultasi dengan dokter rehab medik untuk observasi anak Mom. Pada kasus Sammy, sensory issuenya ada di mulut dimana terlalu sensitif terhadap rasa-tekstur-temperatur sehingga SETIAP HARI Sammy hanya makan 1-2 sendok makan dimana ini pastinya akan mengganggu ke tumbuh kembang Sammy.

APA ITU TERAPI SENSORI INTEGRASI (SI)?

‘Kok cuma main-main sih?’

Ini pertanyaan paling dasar yang pertama kali muncul kalau orang awam melihat anak sedang terapi SI. Memang betul terapi SI ini pada dasarnya hanya bermain TAPIIIIII permainan yang ada di terapi SI ini semuanya terarah loh. Kalau diperhatikan diruangan terapi SI ini ga ada kursi dan meja atau permainan lain yang sifatnya ‘memaksa’. Di ruangan ini anak dibiarkan ‘bebas’ untuk memilih mau main apa, lalu Occupational Therapist (OT) yang mendampingi akan membuat permainan yang dipilih si anak menjadi lebih menantang. Nah pada saat challenge activities ini lah si OT akan mengobservasi respon dari sistem sensory processing si anak, apakah perlu diimprove atau diperbaiki dulu.

Contoh saat Sammy pertama kali masuk terapi, OT akan bertanya,”Sammy hari ini mau main apa?” Disaat ini Sammy mulai memperhatikan ruangan itu apa yang mau dia pilih. Misalnya saat itu dia memilih main memindahkan sensory steps, nah OT akan membiarkan Sammy main dulu. Sementara Sammy sudah merasa nyaman, OT akan mulai memberi challenge dengan mengajak Sammy menginjak (stepping) di sensory steps yang sudah dia susun. Disini OT akan melihat apakah kaki Sammy bereaksi negatif atau positif terhadap sensory steps itu.

Terapi SI bertujuan untuk memperbaiki cara si anak memproses input sensory yang dia terima lewat aktivitas permainan tertentu. Seperti yang sudah saya jelaskan mengenai kontrol terhadap input sensory anak dan dewasa, cara kerja otak anak pun seringnya berbeda dengan orang dewasa. Jadi kalau orang dewasa naik ayunan itu rasanya biasa, untuk anak-anak tertentu mungkin akan menimbulkan sensasi tertentu.

Jadi jangan kaget ya kalau di ruangan terapi SI, Mom melihat hanya mainan seperti ayunan, kolam bola, bola gym, scooter, kotak berisi pasir atau beras (sensory bin), karena pada intinya ini semua sudah dipikirkan baik-baik untuk meningkatkan efisiensi proses sistem sensori si anak.

Kembali lagi ke persoalan perlu atau tidak terapi SI itu. Beberapa hari lalu saya sempat konsultasi dengan dokter di klinik pela 9 dimana saya cukup kaget karena beliau menyarankan Sammy untuk terapi SI lagi. Pendekatan dr Luh dan si dokter ini agak beda ya, kalau dr Luh lebih berfokus tentang bagaimana si anak cukup bisa beradaptasi dengan kondisi dia sedangkan si dokter ini berusaha untuk menghilangkan ‘quirks’ Sammy.

Saya sendiri berkesimpulan, it’s okay kalau anak saya punya quirks misalnya tidak nyaman dengan lantai kamar mandi yang basah selama dia tidak histeris, toh ini tidak akan mengganggu kehidupannya. Problem utama Sammy diawal adalah masalah makan dia dan nyatanya setelah terapi SI sebanyak 5x, semua sudah teratasi, jadi saya juga tidak mau overstimulate Sammy. OT di RSIA Bunda pernah berpesan untuk tidak overstimulate Sammy karena takutnya keadaan akan berubah justru menjadi hyposensitive dimana akan malah berbahaya karena dia menjadi tidak sensitif.

Progress Sammy masalah makan apa saja :

  1. Sammy sudah suka makan keju, dimana sebelumnya dia bisa panik kalau makan keju karena rasa asinnya terlalu ekstrem untuk indera perasa dia
  2. Sammy sudah bisa makan daging dan roti, dimana sebelumnya dia ga bisa cerna ini karena sensitivitas tekstur di indera perasa dia
  3. Sammy jadi suka banget ice cream, dimana sebelumnya Sammy panik kalau makan ice cream karena sensasi dingin temperaturnya
  4. Sammy sudah bisa lagi makan bubur dan pudding, dimana sebelumnya Sammy bisa histeris pukulin kepala dan mulutnya karena dia jijik dengan tekstur bubur dan pudding
  5. Sammy suka banget minum yakult dan yoghurt, dimana sebelumnya Sammy takut sekali dengan rasa asam, again karena indera perasanya tidak bisa menerima rasa yang ekstre

Dari parameter porsi makan memang Sammy belum maju banyak, tapi saya ga terlalu bermasalah dengan ini asal dia sudah mau coba banyak makanan dimana efeknya Sammy jadi makan sering sekali sampai beratnya naik 7 ons dalam waktu 5 minggu.

Kurang lebih ini sharing perjalanan terapi Sensori Integrasi Sammy, semoga bisa membantu para ibu yang lagi bingung mengenai problem sensori anaknya.

 

Cheers,

Mommy Sammy