Disclaimer : saya bukan dokter/OR/SLP, apa yang saya tulis berdasarkan dari hasil konsultasi dengan dokter dan interpretasi yang disesuaikan dengan kondisi anak saya (20 bulan)

Speech delay, ‘trend’ kekinian yang jd issue para ortu dan pro kontra. Saya akan coba bahas dari hasil konsultasi dengan 3 psikolog dan 1 dokter rehab medik ternama, bukan hanya dari hasil googling. Sebenarnya saat Sammy usia 10 bulan saya pernah menanyakan pro-kontra bilingual dan speech delay ke psikolog dan ternyata jawaban beliau sama persis dengan apa yang dikatakan 4 orang ahli lainnya. Kalau dirasa ga sesuai, monggo skip saja. Kalau dirasa berguna, monggo lanjut dibaca sharingan saya. Ini hasil percakapan saya dengan dokter rehab medik terkenal berinisial dr.L di RSIA Bunda.

📌’Dok apa bedanya delayed speech dengan late talker?’

Jawaban dok : hah? late talker? Jujur saya baru dengar istilah kayak gitu. Sudah kamu jangan dengar istilah-istilah kekinian di socmed deh, dengerin saya saja.

Dalam dunia medis ada 2 kategori delayed speech : medis dan non-medis. Yang non-medis terbagi lagi jadi dua :
– kemampuan berbicara, meliputi artikulasi, endurance, phonology, etc
– kemampuan berbahasa, meliputi kemampuan receptive dan expressive.

Contoh delayed karena kemampuan berbicara seperti Sammy, dia bisa cerita dan menyampaikam maksud dia tapi dengan artikulasi yang kurang tepat. ‘dede ngis’ (dede nangis). Saat ditanya kenapa, dia jawab : ‘mi kul la’ (sammy pukul kepala). Ini artinya issue di kemampuan berbicara dimana suku kata di setiap awal kata hilang, hanya disebutkan suku kata terakhir. lalu saat pengucapan kata (contoh ‘kul’), huruf K dan L sudah jelas disebutkan. saat ada kesalahan dalam pengucapan huruf misalnya ‘run’ jadi ‘wun’, itu issue di phonetic.

Kemampuan berbahasa bergantung dari skill kognitif, pemahaman bahasa, konsep, pemrosesan bahasa itu sendiri. skill receptive itu saat anak mengerti instruksi ‘ambil gelas di meja’ dan yang diambil ya gelas. Skill expressive itu saat anak bisa mengeluarkan kata-kata. Nah, saat ditanya ‘mau makan apa’, lalu jawabnya ‘kucing lari’, disini berarti delayed di bahasa, atau mungkin bisa lebih parahnya, ga ngerti mau jawab apa, hanya blabbering. Sama seperti anak bisa bilang ‘mama’ tapi ke papanya juga bilang ‘mama’, itu artinya bahasanya belum ter-develop.

Sampai segini clear dulu ya soal speech delay. Jadi rumusan speech delay bukan cuma patokan anak blm bisa ngomong lgsg dibilang ‘anak gue speech delay’, karena screeningnya tnyt masih spesifik. Late talker? Forget unreliable info for now 😉

📌’Dok Kenapa sih banyak anak jaman sekarang delayed speech?’

Jawaban Dok : Bu, sekarang sementara jadi kayak orang kampung dulu ya. Di kampung ga ada speech delay, karena ortunya ga sok-sok inggris yang akhirnya bikin bingung pemrosesan di otak anak.

Anak jaman sekarang, ngomong minta makan saja belom becus sudah dikasi lagu ‘wheels on the bus’, tapi kalau nanya anak ‘mau minum susu ga?’ Nah loh? Jadi yang bener yang mana nih? Lalu, interaksi 2 arah dengan ortu saja masih belajar, sudah dikasih gadget, youtube, TV. Jadi mother tounge (Bahasa ibu) belum terdevelop sempurna, sudah ditimpa dengan lain-lain.

📌’Tapi dok, anak saya lebih cepet ngerti pake bahasa inggris. Bahkan warna-warna saja walaupun dia ngerti bahasa indonya, dia lebih pilih ngomongnya pakai bahasa inggris. Jadi kalau saya tanya warna terus dia jawab pake inggris, gimana dok?’

Jawaban dok : Stop semua yang berbahasa inggris. Kalo dia blg ‘blue’, ibu ulangi dengan ‘BI-RU’. Harus di brainwash ulang. Tenang saja bu, saat mother tounge sudah sempurna, bahasa kedua ketiga keempat itu urusan gampang, belajarnya akan cepat sekali, apalagi anak ibu kemampuan kognitifnya diatas rata-rata. Lebih susah kayak sekarang kan bu benerin speechnya. Sekarang dia pilih sebut pake bahasa inggris karena cuma 1 suku kata dan hanya itu yang dia bisa. Bhs inggris dalam hal phonetic itu lebih susah loh bu (Dan saya cuma bisa jaw drop sambil nyengir, karena artinya saya harus brainwash Sammy dari nol lagi 😭)

📌’Jadi bilingual ga disarankan ya dok? Terus saya mau masukin sekolah yang bilingual gimana dong dok?’

Sekolah pilih yang bahasa indo ya. Gini bu, bahasa inggris dan Bahasa indo itu beda, bahasa inggris polanya M-D (menerangkan-diterangkan) ‘RED BALL’, bahasa indo polanya D-M ‘BOLA MERAH’ (diterangkan-menerangkan). Bahasa inggris melafalkan huruf R dengan lidah ga menyentuh atas (langit-langit), huruf R kita nempel atas. Sekarang udah ngerti bu, kenapa kebanyakan anak bilingual tanggung itu delayed speech? (Contoh bilingual tanggung itu saat bahasa Indo dan bahasa lain dicampur adukkan : do you want mamam? Can you buang itu di trash can? Yes, it really sounds messed up)

Nah itu hasil percakapan saya dengan dr.L yang sudah saya rangkum ya. Sekarang saya menjawab semua pertanyaan ibu-ibu yang DM ke saya lewat instagram (perkembangan dan terapi bicara Sammy bisa dilihat di instagram highlight saya).

📌Kok bisa yakin Sammy delayed speech?

Pertama dari insting saya sebagai ibu despite a lot of people yang brusaha meyakinkan saya : santai saja lah, yang baru bisa ngomong umur 3-4 taun juga banyak tapi ujung-ujungnya pinter di sekolah. Jujur, saya tipe orang yang ga bisa ambil resiko kalau terkait dengan anak saya, karena worst scenario selalu ada dan we’ll never know apa kita selalu di sisi hoki atau sial. Saya tipe ibu yang better safe than sorry.

Kedua, saya tipe yang suka baca dari internet, dimana biasa saya pilih yang berupa research/jurnal ilmiah supaya credible. Saat notes yang saya jot down tentang gejala Sammy terlihat mencurigakan, saya pasti akan langsung ke ahlinya : Dokter. Psikolog. Bukan selebgram  pastinya 😆 Those who knows me tau seberapa parno saya kalo urusan Sammy. Bukan cuma 2nd opinion, saya mungkin akan cari 3rd sampe 4th.

Sebenarnya alasan saya mengajarkan vocabulary bahasa Inggris (saya tidak bicara bahasa campur aduk ke Sammy) ke Sammy karena 99% preschool bagus yang sudah lolos screening saya dan suami itu menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Jadi pikir saya, akan lebih memudahkan Sammy kalau dia sudah mengenal itu sebelum dia masuk sekolah. Alasan berikutnya karena rencana long term kami untuk tinggal di luar negeri dimana pastinya bahasa pengantar akan menggunakan bahasa Inggris, sehingga kalau Sammy sudah mengenal kata-kata dalam bahasa Inggris, diharapkan dia tidak terlalu mengalami culture shock.

Anyhow, Sammy disimpulkan: DELAYED SPEECH (spesifik di pola dan artikulasi) BUKAN DELAYED LANGUAGE DEVELOPMENT karena kemampuan berbahasa Sammy sudah diatas rata-rata.

📌 Gejala Delayed Speech Sammy?

  • Sammy ga bisa mengucapkan 1 kata full. ‘Mami’ jadinya ‘mi’, ‘daddy’ jadinya ‘di’. ‘Bola’ jadinya ‘la’. Semua suku kata di awal hilang
  • Sammy bisa mengucapkan 1 kata full dengan sayaarat kata tsb pny vowel yang sama, kalopun ga sama dia akan bikin pengulangan ‘balon’ jadi ‘lolon’, ‘bebek’ dia lancar karena same vowel
  • Sammy missed di beberapa consonant ‘susu’ jadi ‘dudus’ (ini paling epic), ‘pesawat’ jadi ‘elat’, ‘turun’ jadi ‘lung’. Huruf N di akhir sll jadi NG (macam françois 😆)

Tapi dibalik itu semua dia sudah mengerti banyak kata sifat ‘panas, dingin, gede, kecil, banyak, sedikit, rame, sepi’. Dia udah bisa cerita dan kalo ditanya ttg siapa, dimana, kenapa, ngapain, dia bisa jawab itu. Dia bisa ngerti instruksi kompleks ‘sammy, mami tolong ambilin pel yang warna biru, yang ada disebelah tempat sampah’. Jadi dirumah dia sering bantuin saya, ambil telepon di meja kerja bapaknya lah, ambil panci di lemari di pojok terus diisi air lah.

My point is, tiap anak itu beda-beda casenya. Saya ga bisa jawab kalau ada pertanyaan umur sekian udah masuk delayed belum sih? Umur sekian harus sudah bisa berapa kata sih? Honestly, parameternya BUANYAK dan saya bukan ahlinya. Please visit the expert, it took less than 24 hours dan ga semahal itu kok biayanya, tapi positifnya kan you’ll get the correct answer.

Kenapa sih ga videoin saja, terus biar audience bisa praktekin di rumah masing-masing? Ya jawabannya karena delayed speech tiap anak itu kategorinya bisa beda-beda (baca penjelasan saya di awal post ini). Kondisi dirumah tiap anak juga beda, ada yang kedua orangtua kerja lalu dititip sama oma yang berbahasa mandarin, ada yang sudah trlanjur sekolah di sekolah bilingual, dan lain sebagainya. Oleh karena itu pentingnya didiagnosa oleh dokter, diobservasi oleh OT (Occupational Therapist), bukan cuma asal ikut dari socmed.

Sedikit cerita, dulu saya pernah jadi english teacher di tempat les sejuta umat dengan inisial E. Ada anak blasteran korea-indo yang troubled, setiap kali di class dia selalu pulang terakhir dan komplen ‘Miss you know I know the answer but I can’t write it in English, can I just write it in Korean?’. Jreng! Ngomong Inggrisnya luancar puol, tapi dia ga bisa baca tulisan Bahasa inggris, ga bisa nulis Bahasa inggris (saya ga tau kalau bahasa lain). Setelah ditelusuri backgroundnya : sama mama ngomong inggris, sama papa ngomong korea, sama oma ngomong mandarin, sama suster ngomong indo. Sehari-hari hidupnya berkisar antara sekolah dan les dengan interaksi hanya dengan supir, suster, oma. Keren kan jadi anak umur 4taun bisa cas cis cus Inggrisnya? But can you imagine how does he feel saat dia selalu pulang les paling terakhir because he just can’t? Can you imagine how messed up his brain is?

Seringkali sebagai orangtua kita berpikir, anak si A sudah bisa cas cis cus, anak kita juga harus bisa dong. Seolah Bahasa Inggris itu keren banget tanpa sadar mungkin level Bahasa Inggris si ortu/pengajar juga pas-pasan. Belum lagi hampir semua aktivitas anak-anak dari berbagai macam institusi mulai dari bayi sudah pakai Bahasa campur aduk Inggris-Indonesia. Sebenarnya kalau dari awal FULL Bahasa Inggris tidak masalah, yang jadi masalah saat Bahasa tersebut dicampur adukkan, contoh : ‘ayo CATCH bolanya! Mainannya kalau sudah selesai di tidy-up yah.’ Hal-hal seperti ini yang membuat pola proses di otak anak jadi berantakan. Mungkin ada sebagian anak yang tidak ada masalah dengan pemroresan bahasa sehingga mau dicampur dua tiga bahasa ga masalah, tapi gimana kalau anak kita masuk ke sebagian anak yang belum bisa seperti itu?

Nah, semoga penjelasan Mommy Sammy cukup membantu ya mengenai speech delay yang sedang jadi pro kontra. Happy Parenting!

Cheers,

Mommy Sammy