Hi Mommies!

Yes, we are expecting #babynumbertwo next year. Setelah berdiam diri selama hampir 3 bulan, akhirnya saya ngaku juga kalau saya sedang hamil. Jujur, pregnancy kali ini ga direncanakan banget. Kami memang planning buat ada baby lagi, but not this year. Banyak rencana yang sudah diatur, dimana kami berencana untuk lodging Permanent Residency, winter traveling di akhir tahun, program diet yang sedang berjalan dan membuahkan hasil, depression therapy yang sedang berjalan, terpaksa harus di-postpone sampai entah kapan.

Percaya ga percaya, sepertinya kehamilan ini sudah ‘digariskan’ sama Yang Diatas. Kira-kira seminggu sebelum saya test pack, Sammy berulang kali ngomong dan elus-elus perut saya sambil bilang,”halo dede, dede lagi apa”’ Tanpa ada pikiran apapun, saat itu saya cuma bilang,”hush, dedenya ada di perut Aunty Nica tuh (kebetulan adik saya sedang hamil).” Nah, sehari sebelum saya testpack, mami saya tiba-tiba nyeletuk ke Sammy,”coba tu dede di perut mommy di elus-elus, bilangin yang sehat, biar bisa main sama Sammy.” Again, dengan pede saya bilang,”dede dari hongkong, ini mah samcan bukan dede.”

Entah ada angin apa, besoknya saya memang ada jadwal untuk IPL brazillian di ZAP, dan saat itu saya tiba-tiba berasa mau iseng test pack, karena kalau sampai hamil, IPL bisa berbahaya untuk janin. Akhirnya saya order goshop dan beli 1 testpack, dan hasilnya kok garis 2. Saya ga percaya dan beli lagi 5 testpack, baik yang strip maupun yg instant result. 2x saya cek pagi itu juga, sisanya saya cek besoknya. Saya ga percaya dengan hasilnya yang semakin jelas. Lalu saya foto hasil testpack itu ke suami saya dan suami saya Cuma replied dengan emoticon shock 😛 Yes, kami berdua shock

At first it’s hard for me to even accept this pregnancy. Saya bahkan sampe 6x TP, berharap salah, tapi yang ada makin jelas garisnya. Secara pikiran manusia, harusnya ga mungkin kehamilan ini bisa terjadi. Saya ga bisa terima karena saya ga dalam kondisi yang ideal untuk membesarkan makhluk hidup baru sekarang ini, physically, mentally. Secara kesehatan jiwa dan fisikpun saya merasa ini bukan kondisi yang ideal buat anak ini ada sekarang. Kepikiran buat terminate? It came to my mind a lot of times.

Kehamilan kali ini saya takut setengah mati, selain karena saya masih minum antidepressant dan obat saraf saya sampai saya tau saya hamil (dimana bahaya sekali untuk janin), sayapun harus lepas antidepressant dadakan yang berarti saya harus fight my own demon without proper help. Antidepressant itu tidak boleh dihentikan mendadak. Pernah saya sotoy dengan menurunkan dosis sendiri sampai berhenti, yang ada rebound effect yang muncul dashyat sekali sampai saya ingin mati terus setiap hari. Rebound effect bisa lebih parah daripada depresi itu sendiri. Buat yang belum tahu, saya mengidap Major Depressive Disorder. Banyak benda terlarang yang  masuk ke tubuh saya yang bisa mengganggu perkembangan janin, karena saya ga tau bahwa ternyata saya hamil.

Unlike waktu hamil Sammy, di awal kehamilan ini saya banyak marah, saya berasa super lonely, saya berasa berdosa sama Sammy, saya berasa ga siap jadi ibu untuk anak ini, saya berasa kapan dong waktu untuk saya bisa santai. Kehamilan ini pun cukup menyiksa, dimana saya ga bisa cium bau makanan sama sekali, bahkan melihat gambar makanan saja sudah membuat saya muntah. Migrain dan vertigo hampir setiap hari, dan badan serasa renta sekali.

I slowly came to my senses after having talked with my close friends. Mereka banyak menguatkan saya, mencoba shifting pikiran saya, dan menyadarkan saya. All is well. Tuhan tau saya kuat, makanya saya DIPERCAYAKAN adiknya Sammy. Di luar sana banyak yang mau punya anak dan mungkin dalam kondisi yang lebih parah dari saya, mereka saja bisa kuat, kenapa saya ga bisa. Entah gimana ceritanya, hari ini tepat 2 bulan saya lepas antidepressant dan amazingly TIDAK ADA REBOUND EFFECT sama sekali. Obgyn-obgyn dan psikiater yang menangani saya pun sangat khawatir karena seseorang dengan major depressive disorder ditambah dengan hormone kehamilan yang berantakan akan membuat orang tersebut semakin tidak stabil dan terancam jiwanya. Nyatanya, saya berasa tenang dan seperti ga ada sesuatu apapun yang berubah. Aneh kan? Kalau tanpa kehamilan saja saya bisa kena rebound effect, dengan kehamilan justru malah fine saja. Saya yakin, kalau bukan karena Tuhan yang menguatkan saya, pasti saya ga mampu.


I feel and am better now, saya ga lagi menolak kehadiran si baby. I know this baby has nothing wrong and God has a purpose on our little family. Mual muntah, migrain, vertigo masih menyerang, tapi so far saya masih bisa bertahan. Thank you yan sudah mendoakan, yang membersi support, yang sudah mendengarkan curhat dan tangisan saya, dan yang sudah mau ditanya-tanya sama emak parno ini jutaan kali, and those who are there for me to assure me that I can do this.

Keadaan si baby sendiri sangat sehat, test NIPT juga sudah saya jalani dan gender si baby pun sudah fix (yippie!). Di post selanjutnya saya akan bahas mengenai NIPT dan gender reveal ya. Buat yang masih menunggu diberikan buah hati, berusaha dan berdoa, waktu Tuhan ga pernah salah dan selalu tepat waktu. Yang sedang hamil juga seperti saya, keep strong Mama, we can do this! ^^

Cheers,

Mommy Sammy